Whisper

"Dengan kemampuannya untuk berjarak dari dirinya sendiri, setiap manusia sesungguhnya dapat menemukan bahwa di hadapan Yang Maha Mencipta, dirinya hanya sebongkah kelegaman, yang bukan apa-apa, yang pekat oleh kebodohan, kekhilafan, dan kelemahan"(Miranda Risang Ayu)

Friday, June 29, 2007

Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan

Tuesday, June 19, 2007

Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan

sacred-union

Oleh Herry Mardian

KUTIPAN dari sebuah diskusi via e-mail antara saya dan Ilham*… mail ’sumber persoalannya’ saya edit biar nggak terlalu panjang. Oh ya, tulisan ini bukan curhatannya Ilham. Tapi tulisan ini kami terima via e-mail, dan kami jadi mendiskusikan pernikahan dan cinta.

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

[Ilham]

Dari tulisan di atas yang saya baca, saya jadi punya pertanyaan, Her:

“Apakah ‘mencinta’? Mencintai cara kita mencintai, atau mencintai dirinya?”

[Herry]

Ham, apakah ada sebuah kebahagiaan yang sempurna, bulat? Seratus persen? Tidak ada. Setidaknya, tidak dalam kehidupan kita yang sekarang. Mengharapkan sebuah perkawinan yang bahagia, sempurna, total, bulat seratus persen bahagia,.. dream on. Not in this life. If you do, then you sucks. Loser. Try to get sober. Wake up. Hang on, get a grip. Whatever.

Tapi perkawinan yang –relatif– bahagia, bisa jadi ada. Walaupun jarang. Berapa lama kita bisa tampil sempurna di hadapan pasangan? Sesuai standar kesempurnaan yang dia harapkan? Nggak mungkin, karena standar kesempurnaan tiap orang pun terus berubah. Honeymoon –will– be over no matter what. But at least, we hope that the biggest portion of our marriage is happines. Itu –relatif–, bukan sempurna.

Mencintai itu ‘memberi’. Tanpa mengharapkan apapun. Seperti matahari yang memberikan sinarnya, atau pohon yang memberikan buah dan manfaatnya tanpa mengharapkan balasan apa-apa hingga dia menjadi layu dan mati. Seperti laut yang terus memberikan mutiara biarpun bilyunan ton sampah dibuang kemukanya setiap hari.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.

(Sapardi Djoko Damono)

Itu level mencintai Ilahiyah. Divine Love. Sejak manusia pertama hingga sekarang, hanya beberapa gelintir manusia yang mempu mencintai seperti itu. Bahkan seorang ibu pun mengharapkan balasan dari anak-anaknya, apakah itu berupa perhatian, bakti, kesopanan maupun tanda terima kasih. Bahkan istri-istri nabi pun cemburu, mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ dari suaminya untuk dirinya, dan membuat lelah dan murung Sang Rasul hingga harus turun wahyu untuk menghibur Beliau saw.

Think: if you were accidentally burnt from head to toe, you become really ugly and disgusting, can’t work anymore, paralyzed… all money’s gone for medication.. will your spouse still love you –’as you are’– ? Apakah kata-kata indah saling mencintai dan menyayangi masih bertaburan? Saya benar-benar berharap, semoga masih, demi Allah. Semoga. Jika demikian maka itu pasangan sejatimu, dan doakan semoga Allah membalasnya dengan cinta-Nya yang sejati, karena engkau telah sepenuhnya ridha pada pasanganmu. Jika demikian maka ia lebih layak untuk Dia daripada untukmu. Serahkan pada-Nya. Berikan kekasihmu untuk-Nya sebagai persembahan tertinggimu kepada-Nya.

Tapi, kalau ternyata tidak, who will love you then?

Cinta sempurna, hanya bisa diraih dan didapatkan dari sosok yang Maha Sempurna. Itulah yang dicari para pejalan ruhani sejati: menginginkan dicintai dan mencintai secara sempurna, oleh dan untuk Yang Maha Sempurna Cintanya.

Lalu untuk apa menikah? Justru itu. Kalau menikah hanya untuk mengejar cinta (psikologis), ia akan habis suatu saat. Apalagi kalo cuma mengejar ketampanan dan kecantikan, harta dan status. Then you will spent the rest of your life, sharing your bed and giving your body to someone that you know he/she ‘just doesn’t have it anymore’. Deep in your heart, you will sigh every second. Helpless. Trapped in your life, breathing in something you don’t like, in every single moment for the rest of your life. You –lose–.

Cinta memang sebuah perasaan yang dahsyat, sering membuat lupa diri, dan sangat jarang orang yang tidak ‘mabuk’ dan mampu menguasai rasionalitasnya ketika dihantam cinta. Tentu saja, karena cinta adalah proyeksi terendah dari asma ‘Ar-Rahiim’, sesuatu milik Yang Maha Agung. Proyeksi terkecilnya saja, bahkan dalam level cinta fisikal dan mental, sudah sedemikian dahsyat efeknya kepada makhluk. Hidup jadi indah, inspirasi mengalir, dan karya-karya raksasa dan monumental akan lahir dari tangan kita karena proyeksi terkecil asma Ilahiyah itu. We become drunk, and try everything we can to not get sober. Not now. No way. Apalagi ketika Allah percaya pada pengabdian kita, dan berkenan menugaskan malaikat untuk menyematkan asma ‘Ar-Rahim’-Nya, yang ‘asli’ dan bukan proyeksi, di dada jiwa kita. Kayak apa dahsyatnya.

Nah, para pejalan ruhani (sufi yang beneran, bukan ngaku sufi atau baru baca beberapa buku sufi macam saya ini) menempatkan pernikahan sebagai kerangka untuk belajar, tangga untuk meraih cinta sejati ini. That Divine Love. To love and be loved, divinely. Perfectly. Sejak awal, paradigmanya beda: baik si pria atau si wanita, sepenuhnya memahami dan mau menerima ketidaksempurnaan pasangannya. Di dalam hati akadnya justru itu: ‘pasangan saya akan ada buruknya, but yet i’m marrying him/her‘.

Ituah sebabnya, kata rasul, bumi dan langit, dan para penghuni langit berguncang, bergetar ketika ada pasangan manusia yang mengucap akad nikah, sumpah nikah mereka. Karena pada hakikatnya mereka berdua bersumpah di hadapan seluruh keagungan majelis Allah ta’ala untuk bersama-sama melangkah memasuki sebuah ‘keberserahdirian’: mereka tidak tahu akan mengalami apa di dalam sana. Proudly (or foolishly) stepping one’s foot into the realm of absolute unknown.

Sumpah ini adalah sumpah kedua terberat setelah sumpah eternal jiwa manusia di Qur’an [7]:172. Bumi dan langit tidak habis pikir dan ngeri: kok berani-beraninya ngambil SKS seberat itu, padahal nanti mereka akan dihakimi Allah ta’ala langsung. Kuliah pertama [7]:172 nya saja belum lulus. Padahal yang mengucapkan sumpah itu ketawa-ketiwi setelahnya, mendengarkan khutbah nikah orang KUA yang nyerempet-nyerempet jorok dan porno (sial, peristiwa sakral kok ngelawak jorok). Bumi sebenarnya udah mau geleng-geleng kepala, tapi teringat bahwa kalau ia geleng-geleng maka seluruh penghuni bumi kiamat dilanda gempa. Makanya semakin ada orang nikah, maka bumi semakin sabar, belajar menahan dirinya untuk tidak geleng-geleng kepala, hehe..

into the unknown

Kembali ke laptop.

Makanya, beragama lewat pernikahan itu lebih berat daripada selibat. Kata Rumi, “kalau engkau termasuk manusia pemberani, maka tempuhlah jalan Muhammad (yaitu menikah dan membersihkan diri lewat pasangan). Tapi kalau tidak, maka setidaknya tempuhlah jalan Isa.”

Justru tujuan pernikahan bagi mereka (para penempuh jalan spiritual sejati) masing-masing lelaki dan wanitanya adalah ‘menggunakan’ ketidaksempurnaan pasangannya itu untuk membersihkan jiwanya sendiri. Dia mengamplas hatinya lewat pasangannya, demi meraih Cinta Sempurna (C dan S nya kapital) untuk diri dan pasangan mereka, karena masing-masing diri mereka menyadari bahwa cinta mereka untuk pasangannya bukanlah cinta yang tertinggi.

Socrates paham sepenuhnya hal ini. Ia, sebagai seorang pencari kebenaran hakiki (sufi sejati juga kali?) justru mencari wanita berperangai paling buruk di Athena untuk ia nikahi. Ia ingin mengasah kebijaksanaan dan kesabarannya lewat istrinya. Kata-kata beliau yang terkenal setelah menikah: “By all means, get married! If you get a good spouse you’ll be happy. If you get a bad one, you’ll become a philosopher. You have nothing to lose.” Lucu sih. Tapi dalem.

Ini dari kitabnya Rumi, Fihi Ma Fihi diskursus #20, terjemahan monsiour Herr Mann Soetomo, tentang pernikahan sebagai jalan Muhammad:

Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan-jenismu, untuk membersihkan ketidak-sucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik mensucikan dirimu-sendiri melalui mereka daripada mencoba mensucikan mereka melalui dirimu-sendiri. Ubahlah dirimu-sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut-pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak-adil.

Pada hakikat dari persoalan ini lah, Muhammad S.A.W. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, lelaki hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan, agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan-jenis, mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlakukan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.

Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak-murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidak-murnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.

Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan ruhaniah. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.

Diriwayatkan bahwa suatu malam Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya kembali dari suatu ekspedisi. Belian menyuruh mereka memukul genderang, seraya berkata: “Kita akan berkemah di gerbang kota, dan memasukinya esok-hari.” Mereka bertanya: “Wahai Rasul Allah, mengapa kita tidak langsung saja kembali ke rumah masing-masing?” Beliau S.A.W. menjawab: “Bisa jadi engkau akan menemui istrimu di ranjang bersama lelaki lain. Engkau akan terluka, dan kegaduhan akan timbul.” Salah seorang sahabat tidak mendengar ini, dia masuk ke kota, dan mendapati istrinya bersama dengan orang lain.

Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini: Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak-adilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.

Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad S.A.W. adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain. Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggungkan seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu, “Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil-panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta-karun,” bahwa engkau akan meraih harta-karun, itu benar adanya; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapankan.

Jadi, justru di jalan Muhammad orang yang mau menikah seharusnya sepenuhnya menyadari bahwa sifat-sifat pasangan yang ‘buruk’ itu akan menempa kita, demi menjadi bijak, bersih, matang, dan suci, untuk meraih cinta tertinggi bagi masing-masing pasangan. Ini bahagia atau tidak bahagia? Tergantung cara memandang ‘kebahagiaan’. Bahagia kelas permen atau bahagia kelas langit.

Di sisi lain, Rasul melarang menikah tanpa cinta, sekalipun itu paksaan orangtua sendiri. Cinta adalah landasannya pernikahan. Tapi para pejalan ini tahu, bahwa hanya ada dua kemungkinan arah cinta di awal pernikahan itu: cinta itu akan mati saja, atau cinta itu akan mati dan tertransformasi menjadi cinta yang lebih tinggi, dalam tiap tahapan pernikahan. Itu artinya menanggung tempaan secara teratur, selang seling senang dan martil.

Sekarang, kalau saya ditanya, memang mau menempuh pernikahan seperti itu? Berani? Sejujurnya, rasanya nggak lah. Ke’sufi’an (dalam tanda kutip) yang saya punya paling juga masih sebatas wacana. No way. Not way. Saya juga tentu mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan saya. Tapi pada saat yang sama, juga mengharapkan adanya transformasi. Agaknya kalau mau enak semuanya itu jawaban hawa nafsu saya saja.

Kalau merenungi landasan pernikahan kami lumayan membuat saya ‘berkeringat dingin’. Bukan mikirin malam pertama, tapi mikir landasan pernikahan kami. Udah benar belum ya, landasannya, niatnya, paradigmanya, harapannya? Kalo salah gimana? Apa yang terjadi nanti? Apakah langgeng, berantem, bercerai? Kaya, melarat? Nggak tau. Mutlak nggak tau.

Saya hanya berharap semoga Allah tidak pernah meninggalkan kami, dan mencukupi kebutuhan kami lahir dan batin, jasad dan jiwa. Semoga dari ketidaktahuan itu akan lahir sebuah Keberserahdirian yang mendatangkan rahmat.

Islam, aslama, berserah diri. Makanya kata Rasul, menikah adalah setengah diin, diinul-Islam, jalan keberserahdirian. Sebuah kebergantungan hati yang mutlak kepada Allah ta’ala, no matter how good we are. That sense is so hard to accomplish.

Semoga Allah menguatkan kami dalam penempaannya. Semoga Allah berkenan hadir mengunjungi kami dalam kebahagiaan-kebahagiaannya. Ya Rabb, please be gentle with me. This is my first. Actually, You are my first.

;)

*Lagi males nulis, tulisan diatas saya 'bajak' dari Blog nya mas Herry Mardian. Makasih ya atas izinnya. Tulisan ini jadi legal dan halal kan :D

Wednesday, April 11, 2007

BERANI HIDUP

Jangan biarkan aku berdoa untuk berlindung dari bahaya,
Tetapi untuk menjadi berani menghadapinya
Jangan biarkan aku meminta kesembuhan luka,
Namun hati untuk menaklukkannya...

(Rabidranath Tagore)

IBUKU PERMATA HATIKU

Anda tersenyum membaca judul diatas?karena judul itu sama persis dengan judul puisi yang dibuat oleh anak SD? Tidak apa2, karena sungguh saya pun merasa kesulitan membuat judul yang tepat untuk menggambarkan sosok ibu yang saya cintai.
Pada awalnya permata hanyalah sebongkah karbonit hitam. Agar menjadi indah,ia harus merelakan dirinya untuk ditempa dengan tekanan panas yang amat tinggi dalam jangka waktu yang sangat lama. Permata akhirnya saya anggap sebagai personifikasi yang paling tepat dari ibu saya. Ibu saya adalah sosok yang telah merelakan dirinya ditempa dengan berbagai kesulitan dan kegetiran hidup untuk kemudian membagikan keindahannya dalam bentuk cinta, ketulusan, kesabaran kepada kami, keluarga kecilnya.
Saya sangat mencintai ibu saya, hingga teman perempuan saya sempat protes, bahwa saya lebih sering menceritakan tentang ibu saya dibanding ayah. Biasanya saya berkilah dan menjawab dengan diplomatis, 'bukankah kedudukan seorang ibu tiga kali lebih utama dibanding ayah? ;)
Ibu saya adalah sosok sederhana. Beliau hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang menancapkan eksistensi diri tidak di gedung-gedung perkantoran melainkan di tengah kehangatan keluarga.
Ibu adalah segalanya dalam hidup saya. Ketika teman-teman saya sering mengeluh, betapa sulitnya berkomunikasi dan mencurahkan perasaan pada ibu mereka tanpa merasa dihakimi, ibu saya adalah teman yang setia mendengarkan cerita saya berjam-jam.Ibu saya selalu ada ketika saya ingin bercerita apa saja, tentang kebahagiaan, tentang kepedihan...Dan pangkuan ibu adalah tempat yang paling mujarab untuk menumpahkan segala sesak di dada. Ketika saya merasa gagal, kecewa, dan tersakiti. Demikianlah...ibu selalu ada....
Ibu saya belum pernah membaca buku psikologi perkembangan ataupun buku pendidikan anak. Tetapi beliau mengerti benar bagaimana harus memperlakukan anak-anaknya. Belum pernah sekalipun beliau memaki ataupun berteriak keras. Beliau mendidik kami dengan cinta dan hanya dengan cinta. Ketika saya berbuat salah ataupun tanpa sengaja membuat kesal, biasanya ibu hanya terdiam. Tetapi sorot matanya cukup untuk membuat saya merasa bersalah dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Saya mencintai ibu saya. Kenyataan bahwa saya belum mampu untuk membahagiakannya, sering membuat saya merutuki diri sendiri. Maka, saya pun hanya bisa berdoa agar Allah berkenan memampukan saya untuk membahagiakan ibu saya. Entah kapan...
Ibu saya seorang yang lembut sekaligus tegar. Ketegarannya seringkali mampu memberikan kekuatan kepada kami atas apapun yang terjadi dalam hidup. Kesabaran dan keikhlasan adalah dua hal yang sering beliau camkan. Dan puncaknya adalah ketika saya ditimpa musibah yang cukup besar. Ketegaran ibu saya lagi-lagi diuji. Ibu saya hanya manusia biasa, beliaupun menangis,tetapi hanya sebentar saja. Dengan cepat, disaputnya kesedihan berganti dengan ketegaran yang amat saya kenal. Ketegaran seorang ibu memang mumpuni, mampu memberikan energi hingga saya pun bertekad untuk berusaha kuat seperti ibu saya.
Peristiwa itu semakin membuat saya mencintai ibu saya. Ibulah yang setia menemani saya mengatasi masa-masa sulit, ketika air mata sudah tidak mampu lagi mengikis rasa pedih.
Ibu yang memeluk saya, ketika tubuh saya berguncang manahan duka hati. Ibu yang menghadiahi saya dengan banyak cinta ketika langit terasa kelam.
Tak ada makhluk di dunia ini yang sempurna, tapi bagi hidup saya, ibu adalah sempurna.
Tuhan telah banyak memberikan anugerah dalam hidup saya. Tapi, bila Tuhan meminta saya untuk menyebutkan satu saja anugerah-Nya yang paling indah, maka saya akan menjawab, ibu saya Tuhan...

*Untuk bunda sayang, maafkan aku ketika kata dan hanya kata yang mampu aku hadirkan sebagai tanda cinta untukmu...

Tuesday, February 20, 2007

Awan dan Bunga

Bila awan tidak menangis,
Bagaimana mungkin bunga akan tersenyum?

Pada Suatu Malam

Malam itu, bunda...
Amat lah pekat
Tak ada bintang gemintang...
Langit seperti turut berduka

Lembaran telah dibuka
Pena telah mengering
Takdir-Nya telah bicara, bunda
Dan kita tahu
Kita harus bisa bertahan...

Mata kita sembap
Hati kita sama-sama pedih...
Malam itu pun kita berjanji untuk saling menguatkan...
Menguatkan dengan cinta dan kesabaran...


Malam itu, bunda...
Lagi-lagi menjadi menjadi saksi ketegaranmu
Saksi cinta mu, untukku
Saksi cinta-Nya untuk kita...

(Medio 31 januari 2007)

BERDAMAI DENGAN TAKDIR

Pernahkah anda merasa tiba-tiba hidup serasa di ujung tanduk hanya dalam sekejap? Suatu hari dalam kehidupan saya, untuk pertama kalinya saya merasa Allah mengjuji saya dengan ketakutan yang sangat besar. Saya dihadapkan pada pada suatu peristiwa yang cukup mencekam yang tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak,bahwa suatu saat saya akan mengalaminya. Saking menakutkannya, hingga saya berusaha sekuat tenaga untuk mengingkari semua kenyataan itu, berharap semua hanya mimpi, dan ketika saya terbangun, semua masih baik-baik saja.
Tetapi, kenyataan adalah kenyataan yang mau tidak mau harus dihadapi,sepahit apapun.Bila duka memiliki warna, maka amat pekatlah hidup saya saat itu. Bagaimana tidak? peristiwa itu sangat menghentak jiwa dan sempat membuat saya merasa 'mati',Mati dari rasa berharap untuk melihat mentari esok hari, mati dari rasa berharap untuk menatap masa depan. Hidup saya di ujung tanduk.Duka hati saya jangan ditanya...
Hati saya berontak, protes kepada-Nya pun sempat terlontar. "Mengapa lagi-lagi terjadi kepada saya Tuhan? Ujian ini terasa sangat berat" Batin saya menangis.Life was so unfair to me...
Keimanan saya benar-benar diuji. saat itu makna takdir menjadi sangat sulit untuk saya cerna.Pikiran saya buntu, sama sekali tidak bisa berfikir.Akhirnya, melalui telepon saya merintih kepada guru saya, dan dengan bodohnya saya bertanya "Tolong bu, jelaskan kepada saya tentang takdir". Guru saya terdiam sejenak.Tampaknya bukan hal yang mudah untuk menjelaskan sesuatu yang sepintas sederhana tetapi sangat esensial.
Akhirnya, beliau menjawab dengan singkat. "Takdir adalah kehendak-Nya, tetapi tidak serta merta kita boleh menyalahkan-Nya. Dia tidak pernah salah, kita lah manusia yang sering lalai. Bisa jadi, ini adalah peringatan karena kita melupakan-Nya. Yang jelas, semua ini harus mampu menjadikan kita manusia yang lebih taat lagi".
saya terdiam. Kesadaran sayapun timbul. Seketika saya beristigfar. Tiba-tiba saja saya merasa amat lemah di bawah lemah. Saya hanya debu di hadapan-Nya. Tertiup angin pun lenyaplah saya. Pun jika saat itu nyawa saya diambil-Nya, saya bisa apa?
Ya, Dia Maha Berkehendak dan Maha Suci dari segala prasangka buruk. Dia tidak pernah mendzolimi hamba-hamba-Nya. Kalaupun saya ditimpa kesakitan atau musibah, pada hakikatnya adalah karena kesalahan saya sendiri.
Manusia, eh..saya memang makhluk menyebalkan. Serimgkali harus ditegur untuk menjadi sadar. Sadar akan diri yang penuh dosa. Dosa saya memang sudah terlampau mambuih dan terlanjur berkarat sehingga Allah mempunyai 'cara' sendiri untuk membersihkan dosa-dosa saya. Musibah itu semoga bisa menjadi kifarat dosa-dosa saya...
Akan tetapi, memang tidak ada sesuatu yang sia-sia. Akan selalu ada hikmah diantara puing-puing yang berserakan. Musibah itu memberikan banyak sekali pelajaran hidup untuk saya. Musibah ternyata bisa menjadi sarana pembelajaran paling efektif dibandingkan dengan duduk berlama-lama di forum pengajian.Karena segala teori tentang kesabaran, keikhlasan, ketawakalan dan teori -teori lainnya menuntut untuk segera diamalkan. Musibah adalah ujian praktek dari kehidupan, itu kesimpulan saya...
Kehendak Allah memang seringkali tidak dapat dipahami, karena manusia yang amat sangat dhoif mamang tidak mungkin dapat memahami Dia yang Maha Mengetahui. Tetapi saya percaya, sepahit apapun, segetir apapun, skenario-Nya selalu indah, selalu baik...
Maka, melalui tulisannya, Miranda Risang Ayu pun bertutur " Dalam perspektif keimanan, Ia Maha Suci dari keburukan, dan proses hidup yang digariskan-Nya untuk siapapun adalah sempurna. Yang menjadi persoalan adalah ketiadaan keberanian seseorang untuk percaya , bahwa semua kenyataan yang menekan jiwa dan membakar hati itu, pada dasarnya adalah baik. Yang Maha Pengasih tampaknya ingin menyatakan bahwa bergantung kepada siapapun dan apapun yang terbaik, selama semua itu masih berwujud ciptaan-Nya adalah sia-sia. Hanya Dia lah sumber keseimbangan,kebahagiaan dan kekuatan yang sebenarnya".
Ya, ketika takdir-Nya bicara, memang tidak ada yang bisa dilakukan selain menjaga keimanan agar tidak menjadi redup. Keimanan untuk tetap meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya, seperti juga sehelai daun yang terjatuh hanya atas izin-Nya. Meyakini hanya Dia lah sebaik-baik penolong, sebaik-baik penentu keputusan...
Terakhir, saat logika manusia sudah tidak lagi mendapat tempat dan hati sudah mulai letih untuk diajak berdebat, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk melakukan perdamaian.
Berdamai dengan hati, berdamai dengan takdir...
Agar lenyap segala duka, kegelisahan, prasangka buruk dan amarah, sehingga hanya keridhoan saja yang bersemayam dalam hati...

Wednesday, January 31, 2007

MENGASAH NURANI

Suatu siang di dalam angkot. Cuaca saat itu sangat tidak bersahabat. Matahari sangat terik memanggang kulit.Sesekali saya mengibaskan kertas untuk sekedar mengusir rasa gerah. Tiba di perempatan lampu merah, angkutan yang saya tumpangi pun berhenti. Dan seperti biasa pengamen-pengamen akan mulai berdatangan. Dua pengamen cilik mendekati angkutan, dan dengan suara paraunya menyanyikan lagu yang, maaf tidak karuan. Mungkin karena sudah terlalu lelah, nyanyian mereka lebih tepat dikatakan sebagai gumaman. Tidak jelas. Setelah selesai, satu dua orang penumpang memberikan uang recehannya.Saya pun mencari-cari uang receh yang terselip di dompet saya.
Saat itu, entahlah, karena kondisi saya yang sedang 'kacau', pemandangan yang sudah terlalu biasa itu terasa semakin membuat saya lelah.lelah lahir batin.
Saya jadi teringat dengan sebuah perbincangan dengan seorang teman lelaki saya. Dia adalah teman lama yang kebetulan mengenyam pendidikan di tempat berbeda dengan saya. Dia seorang aktivis di kampusnya. Pikiran-pikiran yang dia kemukakan sering membuat saya pusing kepala oleh ketidakmengertian :)
Ketika kami sedang berada di dalam angkot, demi melihat pengamen dan anak -anak jalanan yang memenuhi jalan, dia pun berujar "sesekali mungkin kita harus sedikit tega untuk tidak memberi mereka uang. Dengan kata lain, kita coba didik mereka, mencoba memberi pelajaran agar mereka 'terkondisikan' untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Dengan begitu, mungkin bisa sedikit mengurangi jumlah pengamen dan anak jalanan yang semakin hari jumlahnya semakin banyak saja".
Saya pun langsung menukas pikiran praktisnya."Masalahnya, apa mereka akan sadar bahwa mereka sedang dididik, di beri pembelajaran? Mereka...hanya perlu makan saja,saya kira". Teman saya langsung terdiam.
Ya, istilah didik mendidik, pembelajaran atau apapun itu namanya, menurut saya hanya ada dalam pikiran orang-orang termasuk saya,yang merasa'berpendidikan' dan merasa tahu segala macam teori untuk mengentaskan kemiskinan. Sedangkan mereka, sulitnya mencari pekerjaan dan kerasnya hidup telah membuat mereka tidak mempunyai banyak pilihan, apalagi untuk berfikir mengenai peta kehidupan dalam jangka panjang. Mereka makan,hidup, hanya untuk hari ini.Selesai...Urusan besok makan apa, ya tinggal mengamen lagi.
LSM-LSM telah banyak didirikan, rumah singgah pun tak kurang banyaknya. Tanpa hendak mengecilkan peran organisasi-organisasi tersebut, pemandangan pengamen dan anak jalanan tetap saja masih menjadi santapan sehari-hari. Belum ada perubahan yang signifikan, saya rasa.
Kehidupan mereka tetap saja masih terangkum dalam data-data statistik, berupa angka-angka, bukan sebagai manusia...
Segala macam teori tentang pengentasan kemiskinan dikerahkan, hasilnya tetap saja belum terasa. Negeri ini memang sudah terlanjur carut marut, permasalahan terlalu komplek, seperti lingkaran setan yang sulit untuk diurai...
Bila kondisi jiwa dan keimanan saya sedang stabil, saya bisa memberikan beberapa uang logam saya dengan ringan saja, tanpa memikirkan apapun. Tapi, bila kondisi saya sedang berada di 'titik genting' sedang letih, sedang lemah iman, uang yang saya berikan harus dengan susah payah saya keluarkan setelah melalui serangkaian pergulatan batin karena rasa bersalah.
Situasi ini kadang membuat saya letih dan bosan, karena jumlah mereka memang banyak, sebanyak perempatan lampu merah yang harus saya lalui setiap harinya.
Jadi bagaimana? pura-pura tidak tahu saja? Tapi nurani sayapun tidak bisa berbohong, mata-mata lapar mereka memang nyata di depan mata.
Dalam situasi seperti ini, mungkin sudah saatnya bagi saya untuk untuk mengesampingkan akal dan teori-teori apapun yang ada di kepala saya.
Urusan pengentasan kemiskinan, biarlah diatur oleh lembaga yang lebih berkompeten.
Saya? Saya hanya perlu mengasah nurani, agar hati terbiasa untuk lembut dan peka terhadap penderitaan sesama.Berhenti berfikir mengapa saya harus menolong, mengapa harus membantu. Bukankah Tuhan Maha Melihat, dan hanya keridhoan-Nya saja yang kita harapkan?
Dan, ajaib... saya pun tidak merasa pusing kepala lagi...Bagaimana dengan anda?

Friday, January 19, 2007

Menggenapkan Setengah Dien

Beberapa tahun lalu, bila wacana tentang pernikahan disodorkan ke hadapan saya, maka saya akan mengatakan bahwa sebuah pernikahan adalah indah dan menyenangkan saja. Bagaimana mungkin tidak indah ketika kita bisa selalu bersama dengan orang yang kita cintai dan menghabiskan sisa usia sampai mati. Indah, persis seperti cerita pangeran dan putri di negeri dongeng. Prince and princess get married and they live happily ever after!
Tapi, sayangnya kita tidak sedang hidup di negeri dongeng.Kita hidup di dunia nyata yang di dalamnya tidak hanya menawarkan bunga yang indah, tapi juga hujan dengan petir yang menyambar.
Dengan berbekal pengalaman hidup yang ala kadarnya, akhirnya saya menyimpulkan bahwa bila pernikahan dengan segala konsepnya harus dirangkum dalam satu kata saja, saya akan menyebutkan kata perjuangan. Ya, menikah berarti perjuangan...
Ketika kita mengikrarkan janji sehidup semati di hadapan-Nya, berarti kita telah menyiapkan diri untuk berbagi hidup dengan orang lain. Kesediaan untuk berbagi hidup dengan orang lain, sama artinya dengan keikhlasan dan kerelaan untuk menurunkan ego hingga beberapa tingkat yang bagi sebagian orang dirasakan sebagai suatu bentuk penurunan harga diri.
Tidak ada lagi aku atau kamu, yang ada adalah kita...Dua orang yang sama-sama sedang berusaha menggenapkan cinta...
Pernikahan bukan hanya sebuah keinginan, namun sebuah keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan kesiapan untuk berjuang, begitu menurut sebuah buku yang saya baca.Sedangkan guru mengaji saya mengatakan bahwa pernikahan memerlukan kesiapan fisik,mental dan spiritual...
Menghadapi hal tersebut, akhirnya saya mencoba membekali diri dengan banyak membaca buku-buku tentang pernikahan. Hasilnya? semakin banyak tahu, semakin rumit pula konsep pernikahan dalam benak saya. Dan bertaburanlah kata-kata yang mengiringi kata pernikahan, diantaranya adalah, cinta, kesabaran, keikhlasan, keridhoan, empati, komunikasi dan masih banyak lagi. Menggenapkan setengah dien? alangkah terjal dan berliku...
Tapi, ketika Allah telah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk mengemban amanah besar itu, Dia pun telah menyediakan pula sandaran tempat manusia bergantung. Sandarannya, tentu saja hanya Dia...
Pertanyaannya kemudian adalah,akankah saya sanggup untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya penolong, melibatkan-Nya dalam setiap persoalan kehidupan pernikahan saya kelak?
Karena, menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran hidup tidak bisa hanya diucapkan di mulut saja. Kesadaran itu hanya dapat dimengerti dan dipahami oleh dua orang yang sama-sama bersedia untuk merendahkan diri dan membuka hati untuk menerima kebenaran-Nya, ketimbang ego pribadi. Ego sebagai suami atau sebagai istri. Sama-sama menyadari bahwa kita hanya lah makhluk lemah yang setiap saat akan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.Karena hakikat menikah itu sendiri adalah sebagai sarana pembuktian cinta kita kepada Tuhan dan bukan pembuktian cinta kepada pasangan.
Sekali lagi, pernikahan adalah sebuah perjuangan. Maka, apakah kemudian saya menjadi takut untuk menikah setelah mengetahui segala kewajiban dan konsekuensinya? Tentu saja tidak. Karena bagaimanapun dengan menikahlah,cinta saya terhadap agama dan Tuhan saya menjadi genap dan sempurna...
Jadi, kalaupun kaki saya harus berdarah-darah dalam menapaki pernikahan, saya harus ikhlas dan ridho agar darah dan air mata saya tidak menjadi sia-sia...
Demikiankah? Wallahualam...

Wednesday, January 17, 2007

MENJADI YANG BERSYUKUR

Mari berbicara tentang rasa syukur, dan untuk itu saya mempunyai sedikit cerita untuk anda. Saya mempunyai seorang teman perempuan yang saya kenal melalui komunitas pengajian. Orangnya cantik, shalih (setidaknya begitulah menurut pandangan saya), pintar pula, dia adalah lulusan salah satu institut terkenal di kota Bandung, dan saat ini sedang menyelesaikan Strata 3-nya pada usia yang masih muda. Diapun seorang yang ramah, mempunyai suami yang sepadan dengannya, dan juga dikaruniai anak-anak yang lucu dan pintar. Oya, masih ada lagi, teman perempuan saya itu pun diberkahi dengan harta yang sangat cukup yang diperolehnya dari hasil keringatnya sendiri maupun dari pemberian orang tuanya yang memang sangat berada. Sempurna? Begitulah... She's perfect as a mother, she's perfect as a woman, she's perfect in everything!
Kelebihan-kelebihan yang dia miliki sempat membuat saya dan teman-teman yang lain menjadi sangat kagum sekaligus iri.
Cerita saya belumlah tuntas. Tak lama kemudian, adik perempuan dari teman saya itu ikut bergabung dengan kelompok pengajian kami. Dan lagi-lagi kami di buat terkesima dengan kehadirannya. Sama seperti kakaknya, diapun cantik, pintar, mempunyai suami yang hebat, bergelimang harta pula. Hingga saya tak habis pikir ada sebuah keluarga yang dihujani Tuhan dengan begitu banyak kenikmatan tanpa henti.
Kemudian saya melihat kehidupan saya. Wajah? biasa...Keluarga? juga biasa-biasa saja. Uang? seringkali saya harus mengerutkan kening ketika persediaan gaji saya semakin menipis di akhir bulan.Maka, sangat bisa ditebak, tiba-tiba saja saya menjadi sangat menderita dengan segala kekurangan yang saya miliki.
Lalu, dimana letak permasalahannya? Apakah kemudian saya menjadi berhak untuk mengatakan bahwa Tuhan saya telah berlaku tidak adil? tentu saja tidak. Karena Dia maha Berkehendak. Jika Dia berkenan, bisa saja dijadikan-Nya dunia ini biru semua atau putih semua.
Masalahnya ternyata ada di dalam kepala saya,It depends on the way i think...the way i look!
Saya melihat kehidupan kedua kakak beradik teman saya itu dari luar. Saya hanya melihat hal-hal yang tampak oleh mata lahiriah saya saja. Saya merasa bebas untuk mempersepsi kehidupan mereka sesuka hati saya, maka terlihatlah kehidupan yang sempurna.
Sedangkan saya melihat kehidupan saya sendiri dari dalam. Ketika berada di dalam semuanya akan terasa sempit kan? terasa menyesakkan, lalu menjadi orang malanglah saya. Saya kesulitan untuk mempersepsi kehidupan saya dengan baik dan positif.
Sekarang, saya coba untuk meneropong kehidupan saya dari luar. Try to think out of the box!
Hmmm...wajah saya memang biasa, tapi diam-diam sayapun pernah membuat beberapa orang lelaki patah hati ;) Keluarga saya biasa saja, tapi saya mempunyai orang tua yang kasih sayangnya tidak pernah habis dan seorang kakak yang baik yang tidak pernah lupa membawakan saya hadiah-hadiah kecil ketika pulang bepergian.Then... i could say that i'm blessed to have them in my life!
Uang saya memang tidak banyak, tapi atas kemurahan-Nya saya dapat belajar mandiri untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri walaupun dengan sederhana. Lalu, sayapun dikelilingi oleh teman-teman yang menakjubkan. Saya memiliki banyak teman dengan berbagai macam karakter dan warna. Dari yang alim, hingga teman yang tidak segan-segan dan tidak malu-malu untuk bertingkah laku konyol dan tertawa keras bersama saya ketika menemui hal-hal yang lucu.Kehadiran mereka, sungguh mewarnai hidup saya. Tapi yang terpenting adalah semua itu membuat saya merasa dibutuhkan, merasa disayang dan merasa tidak sendiri.
Suddenly, i found that i have a very wonderful life. Sayapun tidak merasa malang lagi...
Secepat itukah? bisa saja. Dengan mengubah pikiran, langit yang berwarna kelabu bisa tiba-tiba berubah menjadi pink seperti warna kesukaan saya.Dengan kekuatan pikiran kita bisa mengubah dunia, begitu kata seorang pakar pengembang kepribadian.
Saya diberi kebebasan oleh-Nya untuk memilih menjadi orang yang menderita atau orang yang bahagia. Terserah saya, suka-suka saya.Bukankah Tuhan selalu datang sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Maka saya pun memilih untuk menjadi orang yang berbahagia kapanpun saya mau, tidak tergantung pada apapun, atau pada siapapun...
Kembali ke cerita kakak beradik teman saya itu, ternyata kehidupan mereka tidak sesempurna yang saya bayangkan. Belakangan, saya baru mengetahui bahwa ternyata sang kakak mengidap penyakit yang cukup parah yang mengharuskannya bolak-balik pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatan.
Dan sang adik ternyata pernah mengalami masa-masa pahit dan pedih ketika harus merelakan kehilangan anak pertamanya karena keguguran. Ketidakhadiran anak sempat pula menjadi duri dalam rumah tangga kecilnya. Dengan kata lain, mereka pun pernah mengalami kekecewaan dan kepedihan.
Ya, sebagai manusia ternyata lagi-lagi saya harus mengakui kelemahan dan keterbatasan akal saya yang seringkali merasa sok tahu tentang kehendak-kehendak-Nya. Saya pun akhirnya tersadar, seorang manusia justru menjadi 'sempurna' dengan kekurangan-kekurangan yang ia miliki. Menjadi sangat manusiawi bila manusia sesekali merasakan kesedihan, kehilangan atau apapun itu. Yang jelas, Tuhan tidak hendak mendzolimi manusia ketika menisbatkan segala cobaan-cobaan hidup tersebut. Melainkan untuk menguji dan mempermudah manusia agar dapat mengucap Alhamdulillah dengan penuh makna.

Tuhan menyatakan kasih sayangnya tidak selalu dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Kepedihan dan kesakitan pun adalah bukti kasih sayang-Nya.
Selalu menjadi yang bersyukur atas apapun yang terjadi, mungkin itu yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya...
Sayangnya....seringkali prasangka buruk dalam kepala bebal kita menjadi penghalang untuk dapat memahami pesan-Nya...

Kembali kepada Allah

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,

maka merangkaklah kepada-Nya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,

maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,

ayolah datang, dan datanglah lagi!
Karena Tuhan telah berfirman:“Ketika engkau melambung ke angkasa

ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,karena Aku-lah jalan itu.”

(Jalaluddin Rumi)

Bait untuk Tuhanku

Legamnya dosaku, Tuhan...
Sungguh, telah menghanguskan tubuhku...
Seluruh hidupku...
Membuat aku tidak mampu untuk berdiri tegak

Telah sampai aku pada letih...
Telah merapat aku pada penghujung asa...

Atas nama kelemahanku sebagai manusia,
sebagai perempuan...
Tolong kuatkan aku Tuhan...
Kuatkan aku dengan ampunan-Mu
Sungguh...
Bagiku itu cukup....

BERPROSES

Proses.Saya sangat menyukai kata itu, karena didalamnya menyiratkan adanya usaha tanpa lelah yang dilakukan secara terus menerus untuk menjadi lebih baik.Sekaligus tidak menuntut manusia untuk menjadi sempurna, karena dengan segala kekurangan dan kelemahannya, manusia memang tidak mungkin menjadi sempurna.
Berbicara mengenai proses, secara tidak langsung kita akan berbicara pula mengenai perjalanan hidup. Untuk itu, saya ingin sedikit menceritakan perjalanan hidup saya. Terlahir sebagai anak bungsu dari keluarga kecil, sempat membuat saya merasa hidup sangat nyaman. Saya hampir tidak pernah mengalami konflik yang berarti dalam hidup saya. Bagaimana mungkin saya menemui konflik, ketika kedua orang tua saya siap melindungi saya kapan saja, dan kakak laki-laki saya satu-satunya pun siap mencurahkan kasih sayangnya hanya untuk saya saja. Maka, saya pun berada dalam zona aman dan nyaman, begitu menurut istilah salah seorang teman perempuan saya.
Tetapi kemudian, perkenalan dengan lingkungan dan pengalaman-pengalaman hidup yang baru menyadarkan saya, bahwa kehidupan diluar sana kadang tidak pernah kompromi dan tidak segan-segan memberikan pelajaran berupa benturan-benturan ataupun kesakitan yang terkadang sangat memeras air mata. Saya harus bisa menerima dan harus siap untuk belajar. Belajar untuk berproses. Walaupun pada awalnya terasa berat dan menyakitkan, lambat laun saya mulai bisa menikmati seluruh proses dalam hidup saya, bersama dengan teman-teman baik yang selalu menemani. Mulai menikmati dan menyadari bahwa kadang-kadang diantara manisnya hidup, rasa pahit hingga getir diperlukan juga. Sesekali berurai air mata pun tidak apa-apa jadinya.
Dengan tertatih, sayapun akhirnya dapat berkata “bila kita selalu bahagia dan selalu mendapatkan apapun yang kita inginkan, apa yang bisa kita pelajari dari hidup?”
Seiring dengan bergulirnya waktu, saya fikir saya sudah dapat mengatasi persoalan-persoalan hidup saya dengan baik. Tapi ternyata, semua itu belum cukup. Allah masih ingin menguji saya atau menghukum saya, entahlah…Yang jelas, suatu ketika saya dihadapkan pada suatu kondisi yang benar-benar meluluhlantakkan hidup saya. Saya sempat limbung, karena pada saat bersamaan, saya pun ‘dipaksa’ untuk mengatasi semua persoalan dan kekalutan itu sendiri saja. Benar-benar sendiri, karena teman-teman baik tempat saya bergantung dan berbagi cerita pun telah dikondisikan oleh-Nya untuk ‘berpisah’ dengan saya. Allah memang sedang tidak tanggung-tanggung dalam memproses saya. Dia menginginkan saya untuk berhenti bergantung pada makhluk.
Akhirnya, mau tidak mau saya pun harus menjalani hari-hari yang terasa makin berat. Yang tidak hanya memeras air mata tetapi juga darah, saking menyakitkannya peristiwa itu untuk hidup saya. Tapi, Allah yang Maha Sayang memang tidak hendak membiarkan saya terus menerus menderita. Diantara banyaknya dosa saya, Dia masih berkenan untuk memberikan saya kekuatan. Dalam kesendirian, untuk pertama kalinya saya menemukan kemandirian saya. Menikmati setiap detik perjalanan hidup sendiri saja. Menangis tidak di hadapan siapapun, melainkan di hadapan kelemahan dan kebodohan saya sendiri sebagai seorang manusia.
Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, saya jadi berfikir bahwa manusia memang perlu ditempa dengan berbagai kesakitan, kesedihan, ataupun kegalauan agar manusia bisa tersadar dari kesalahan dan tergerak untuk menjadi manusia yang lebih baik. Klise? Mungkin…Tapi, bukankah permata hanya bisa dihasilkan melalui proses tekanan dan tempaan panas yang sangat tinggi? Dan mutiara harus diperoleh dengan susah payah dari dasar lautan?
Ngomong-ngomong tentang permata, saya jadi teringat paparan yang disampaikan dengan sangat indah oleh Miranda Risang Ayu, penulis idola saya. Beliau menyatakan bahwa “seseorang yang telah pernah disapa oleh kebenaran-Nya, sesungguhnya tengah diproses oleh-Nya untuk menjadi permata-permata Mahakarya-Nya”. Indah bukan?
Maka, anda sedang bersedih atau sedang mengalami kegalauan yang akut? Anggap saja semua itu adalah sapaan cinta-Nya untuk kita.Nikmati setiap episode kehidupan dengan senyum. Sesakit apapun, karena semua itu pun akan berlalu.Berproseslah…Berproses untuk menjadi permata…menjadi mutiara. Dan bukan untuk menjadi pecundang, semoga…

Friday, January 12, 2007

Bisikan Sang Waktu

Waktu adalah sahabat sejati
Tak pernah lelah membersamai hidup
Menyingkap semua dusta,
semua yang tersembunyi...
Meluluhlantakkan siapa saja yang tak siap
saat ia menyatakan kebenarannya...
Tak pernah kompromi,
bahkan untuk sekedar menghela nafas...
Waktu adalah sahabat sejati
Lewat angin ia pun berbisik,
Akan selalu ada akhir dari setiap cerita,
Akan selalu ada jawaban atas setiap pertanyaan,
Cepat...
atau
Lambat...

DOA SUNYI

Dan kumasuki malam, ya Tuhan
Ketika siang hari aku harus mulai berjalan
berjubah celaan orang-orang
dan siang hari aku harus mulai terlelap
berselimut sisa-sisa air mata

dan demi Nama-Mu
harus aku berkata,
"Tidak apa-apa."

Dan kumasuki malam, ya Tuhan
ketika di antara celoteh orang-orang
tidak lagi kutemukan hatiku
di antara keriaan orang-orang
tidak lagi kutemukan tawaku

Hanya dengan Nama-Mu
aku ingin berkata-kata
Hanya dengan Nama-Mu
aku ingin berbunga
Tetapi,
aku tidak bisa

Maka, ya Tuhan
Sanggupkan aku
Diam dan berbicara
hanya di hadapan-Mu
Tertawa dan menangis
hanya karena-Mu
Hidup dan mati
hanya pada-Mu

Sanggupkan aku, Tuhan, tolong sanggupkan
karena sungguh aku ingin menemukan
bahwa aku
dekat.


(By:Miranda Risang Ayu)

*Sepenuh takzim untuk miranda risang ayu,
yang tulisannya mampu menguatkan di saat rapuh,
menghangatkan di kala beku,
menyadarkan bahwa muara dari segala kebahagiaan,
kesedihan,dan kegalauan hidup adalah cinta-Nya saja...