Whisper

"Dengan kemampuannya untuk berjarak dari dirinya sendiri, setiap manusia sesungguhnya dapat menemukan bahwa di hadapan Yang Maha Mencipta, dirinya hanya sebongkah kelegaman, yang bukan apa-apa, yang pekat oleh kebodohan, kekhilafan, dan kelemahan"(Miranda Risang Ayu)

Tuesday, January 02, 2007

Menjadi Ibu

Suatu ketika, saat sedang menikmati santap siang pada jam istirahat kantor,tanpa sengaja saya mendengarkan percakapan dua orang ibu muda yang kebetulan duduk tepat di sebelah saya.Hmm..pembicaraan khas ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya sekolah. Ingin tahu apa yang sedang mereka perbincangkan? obat pemutih wajah! Dari percakapan itu, saya jadi tahu nama salon ini, dokter anu, yang mampu memutihkan wajah dalam sekejap.Dan harga yang disebutkan cukup fantastis,hingga jutaan rupiah. Kedua ibu muda itu tampak sangat bersemangat dalam berbagi informasi, hingga dalam benak saya sempat terlontar pertanyaan nakal, akan sesemangat itukah mereka saat membicarakan masalah pendidikan anak? :) Ups..! maaf, saya tidak sedang berapriori bahwa kedua ibu muda itu lebih mementingkan penampilan dibanding perkembangan anak-anak mereka. Baik,kita tinggalkan dulu cerita itu sejenak.
Menjadi seorang ibu, sangatlah tidak mudah,karena di pundaknya telah diamanahkan seorang anak yang harus dididik sepenuh hati, tidak sekedar diberi makan ataupun dipenuhi kebutuhan2 yang bersifat jasmani saja.Anak membutuhkan totalitas waktu yang dimiliki seorang ibu.Maka,alangkah mirisnya bila seorang ibu memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam di salon, yang hasilnya entah akan dinikmati oleh siapa. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk berbagi cerita dengan anak,menjalin persahabatan dengan anak atas dasar kasih sayang. Saya tidak menafikkan bahwa fitrah perempuan adalah selalu ingin tampil cantik,menawan. Tapi, segala sesuatu harus berjalan seimbang. Seorang ibu harusnya tidak hanya pandai memadu padankan warna baju dengan warna lipstik, tapi juga harus cerdas dalam membaca pesan-pesan kehidupan yang diantaranya hadir melalui anak. Ibu adalah pusat peradaban, tidak berlebihan kan bila saya memakai sebutan itu?
Kelak, bila saya dianugerahi seorang anak, saya ingin anak saya tidak mengingat saya sebagai ibu yang suka menghabiskan waktu berjam-jam di salon atau di mall.Melainkan sebagai ibu yang hangat, yang selalu ada untuk berbagi cerita ,sesekali membuatkan makanan kesukaannya ataupun berekreasi bersama ke toko buku. Alangkah romantisnya... :) Saya pun ingin , ketika uang yang saya punya hanya tinggal beberapa lembar saja yang mengharuskan saya untuk memilih membeli obat jerawat atau menghadiahkan anak saya sebuah buku, saya berharap untuk dimudahkan oleh-Nya untuk tanpa berfikir panjang mengambil pilihan yang kedua. Urusan jerawat di wajah? Dibiarkan saja untuk sementara waktu...
Kembali ke cerita dua orang ibu muda tadi, bila pertanyaan nakal dalam benak saya diwujudkan dalam suatu bentuk tindakan, dengan sedikit keberanian mungkin saya akan menyela pembicaraan mereka,dan berkata, "sebagai seorang ibu, ada banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar pemutih wajah" terlalu ekstrim? jangan khawatir, semua itu kan hanya ada dalam benak saya saja :D
Saya mohon maaf, bila tulisan ini terkesan sangat subjektif, karena saya pun belum ditakdirkan untuk menjadi seorang ibu. Tapi, sedikit berandai-andai dan mempunyai pandangan berbeda tidak apa-apa kan?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home