<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337</id><updated>2011-04-22T04:38:40.097+07:00</updated><title type='text'>Whisper</title><subtitle type='html'>"Dengan kemampuannya untuk berjarak dari dirinya sendiri, setiap manusia sesungguhnya dapat menemukan bahwa di hadapan Yang Maha Mencipta, dirinya hanya sebongkah kelegaman, yang bukan apa-apa, yang pekat oleh kebodohan, kekhilafan, dan kelemahan"(Miranda Risang Ayu)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-740057001617255641</id><published>2007-06-29T10:05:00.000+07:00</published><updated>2007-06-29T10:12:11.995+07:00</updated><title type='text'>Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Tuesday, June 19, 2007&lt;/h2&gt;     &lt;h3 class="storytitle" id="post-147"&gt; &lt;a href="http://suluk.blogsome.com/2007/06/19/pernikahan-mengasah-diri-melalui-pasangan/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan"&gt;Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;div class="meta"&gt; Posted by Herry @ 20:01  |  in &lt;a href="http://suluk.blogsome.com/category/artikel/" title="View all posts in Artikel" rel="category tag"&gt;Artikel&lt;/a&gt;,  &lt;a href="http://suluk.blogsome.com/category/tanya-jawab/" title="View all posts in Tanya Jawab" rel="category tag"&gt;Tanya Jawab&lt;/a&gt;,  &lt;a href="http://suluk.blogsome.com/category/renungan/" title="View all posts in Renungan" rel="category tag"&gt;Renungan&lt;/a&gt;,  &lt;a href="http://suluk.blogsome.com/category/kolom/" title="View all posts in Kolom" rel="category tag"&gt;Kolom&lt;/a&gt;  |  &lt;span class="feedburnerFlareBlock"&gt; &lt;a href="http://www.feedburner.com/fb/a/emailFlare?itemTitle=Pernikahan:%20Mengasah%20Diri%20Melalui%20Pasangan&amp;uri=http://suluk.blogsome.com/2007/06/19/pernikahan-mengasah-diri-melalui-pasangan/"&gt; e-mail this article&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://del.icio.us/post?v=4&amp;amp;partner=fb&amp;url=http://suluk.blogsome.com/2007/06/19/pernikahan-mengasah-diri-melalui-pasangan/&amp;amp;title=Pernikahan:%20Mengasah%20Diri%20Melalui%20Pasangan"&gt;+ to del.icio.us&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;     &lt;p&gt;&lt;img src="http://suluk.blogsome.com/images/sacredunion.jpg" alt="sacred-union" /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;span class="add"&gt;Oleh &lt;strong&gt;Herry Mardian&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;KUTIPAN dari sebuah diskusi via e-mail antara saya dan Ilham*… mail ’sumber persoalannya’ saya edit biar nggak terlalu panjang. Oh ya, tulisan ini bukan curhatannya Ilham. Tapi tulisan ini kami terima via e-mail, dan kami jadi mendiskusikan pernikahan dan cinta.&lt;/p&gt;    &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Ilham] &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Dari tulisan di atas yang saya baca, saya jadi punya pertanyaan, Her: &lt;/p&gt;    &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Apakah ‘mencinta’? Mencintai cara kita mencintai, atau mencintai dirinya?”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Herry]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Ham, apakah ada sebuah kebahagiaan yang sempurna, bulat? Seratus persen? Tidak ada. Setidaknya, tidak dalam kehidupan kita yang sekarang. Mengharapkan sebuah perkawinan yang bahagia, sempurna, total, bulat seratus persen bahagia,.. &lt;em&gt;dream on. Not in this life. If you do, then you sucks. Loser. Try to get sober. Wake up. Hang on, get a grip. Whatever.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Tapi perkawinan yang &lt;em&gt;–relatif–&lt;/em&gt; bahagia, bisa jadi ada. Walaupun jarang. Berapa lama kita bisa tampil sempurna di hadapan pasangan? Sesuai standar kesempurnaan yang dia harapkan? Nggak mungkin, karena standar kesempurnaan tiap orang pun terus berubah. &lt;em&gt;Honeymoon –will– be over no matter what. But at least, we hope that the biggest portion of our marriage is happines.&lt;/em&gt; Itu &lt;em&gt;–relatif–&lt;/em&gt;, bukan sempurna.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Mencintai itu ‘memberi’. Tanpa mengharapkan apapun. Seperti matahari yang memberikan sinarnya, atau pohon yang memberikan buah dan manfaatnya tanpa mengharapkan balasan apa-apa hingga dia menjadi layu dan mati. Seperti laut yang terus memberikan mutiara biarpun bilyunan ton sampah dibuang kemukanya setiap hari. &lt;/p&gt;    &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api&lt;br /&gt;yang menjadikannya abu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan&lt;br /&gt;yang menjadikannya tiada.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="add"&gt;(Sapardi Djoko Damono)&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;    &lt;p&gt;Itu level mencintai Ilahiyah. &lt;em&gt;Divine Love&lt;/em&gt;. Sejak manusia pertama hingga sekarang, hanya beberapa gelintir manusia yang mempu mencintai seperti itu. Bahkan seorang ibu pun mengharapkan balasan dari anak-anaknya, apakah itu berupa perhatian, bakti, kesopanan maupun tanda terima kasih. Bahkan istri-istri nabi pun cemburu, mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ dari suaminya untuk dirinya, dan membuat lelah dan murung Sang Rasul hingga harus turun wahyu untuk menghibur Beliau &lt;em&gt;saw.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;em&gt;Think: if you were accidentally burnt from head to toe, you become really ugly and disgusting, can’t work anymore, paralyzed… all money’s gone for medication.. will your spouse still love you –’as you are’– ?&lt;/em&gt; Apakah kata-kata indah saling mencintai dan menyayangi masih bertaburan? Saya benar-benar berharap, semoga masih, demi Allah. Semoga. Jika demikian maka itu pasangan sejatimu, dan doakan semoga Allah membalasnya dengan cinta-Nya yang sejati, karena engkau telah sepenuhnya ridha pada pasanganmu. Jika demikian maka ia lebih layak untuk Dia daripada untukmu. Serahkan pada-Nya. Berikan kekasihmu untuk-Nya sebagai persembahan tertinggimu kepada-Nya.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Tapi, kalau ternyata tidak, &lt;em&gt;who will love you then&lt;/em&gt;?&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Cinta sempurna, hanya bisa diraih dan didapatkan dari sosok yang Maha Sempurna. Itulah yang dicari para pejalan ruhani sejati: menginginkan dicintai dan mencintai secara sempurna, oleh dan untuk Yang Maha Sempurna Cintanya.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Lalu untuk apa menikah? Justru itu. Kalau menikah hanya untuk mengejar cinta (psikologis), ia akan habis suatu saat. Apalagi kalo cuma mengejar ketampanan dan kecantikan, harta dan status. &lt;em&gt;Then you will spent the rest of your life, sharing your bed and giving your body to someone that you know he/she ‘just doesn’t have it anymore’. Deep in your heart, you will sigh every second. Helpless. Trapped in your life, breathing in something you don’t like, in every single moment for the rest of your life. You –lose–.&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Cinta memang sebuah perasaan yang dahsyat, sering membuat lupa diri, dan sangat jarang orang yang tidak ‘mabuk’ dan mampu menguasai rasionalitasnya ketika dihantam cinta. Tentu saja, karena cinta adalah proyeksi terendah dari asma &lt;em&gt;‘Ar-Rahiim’&lt;/em&gt;, sesuatu milik Yang Maha Agung. Proyeksi terkecilnya saja, bahkan dalam level cinta fisikal dan mental, sudah sedemikian dahsyat efeknya kepada makhluk. Hidup jadi indah, inspirasi mengalir, dan karya-karya raksasa dan monumental akan lahir dari tangan kita karena proyeksi terkecil asma Ilahiyah itu. &lt;em&gt;We become drunk, and try everything we can to not get sober. Not now. No way.&lt;/em&gt; Apalagi ketika Allah percaya pada pengabdian kita, dan berkenan menugaskan malaikat untuk menyematkan asma ‘Ar-Rahim’-Nya, yang ‘asli’ dan bukan proyeksi, di dada jiwa kita. Kayak apa dahsyatnya.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Nah, para pejalan ruhani (sufi yang beneran, bukan ngaku sufi atau baru baca beberapa buku sufi macam saya ini) menempatkan pernikahan sebagai kerangka untuk belajar, tangga untuk meraih cinta sejati ini. &lt;em&gt;That Divine Love.&lt;/em&gt; &lt;em&gt;To love and be loved, divinely. Perfectly.&lt;/em&gt; Sejak awal, paradigmanya beda: baik si pria atau si wanita, sepenuhnya memahami dan mau menerima ketidaksempurnaan pasangannya. Di dalam hati akadnya justru itu: ‘pasangan saya akan ada buruknya, but &lt;em&gt;yet i’m marrying him/her&lt;/em&gt;‘.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Ituah sebabnya, kata rasul, bumi dan langit, dan para penghuni langit berguncang, bergetar ketika ada pasangan manusia yang mengucap akad nikah, sumpah nikah mereka. Karena pada hakikatnya mereka berdua bersumpah di hadapan seluruh keagungan majelis Allah ta’ala untuk bersama-sama melangkah memasuki sebuah ‘keberserahdirian’: mereka tidak tahu akan mengalami apa di dalam sana. &lt;em&gt;Proudly (or foolishly) stepping one’s foot into the realm of absolute unknown.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Sumpah ini adalah sumpah kedua terberat setelah sumpah eternal jiwa manusia di Qur’an [7]:172. Bumi dan langit tidak habis pikir dan ngeri: kok berani-beraninya ngambil SKS seberat itu, padahal nanti mereka akan dihakimi Allah ta’ala langsung. Kuliah pertama [7]:172 nya saja belum lulus. Padahal yang mengucapkan sumpah itu ketawa-ketiwi setelahnya, mendengarkan khutbah nikah orang KUA yang nyerempet-nyerempet jorok dan porno (sial, peristiwa sakral kok ngelawak jorok). Bumi sebenarnya udah mau geleng-geleng kepala, tapi teringat bahwa kalau ia geleng-geleng maka seluruh penghuni bumi kiamat dilanda gempa. Makanya semakin ada orang nikah, maka bumi semakin sabar, belajar menahan dirinya untuk tidak geleng-geleng kepala, hehe..&lt;/p&gt;    &lt;center&gt;&lt;img src="http://suluk.blogsome.com/images/jumpintotheunknown.gif" alt="into the unknown" /&gt;&lt;/center&gt;    &lt;p&gt;Kembali ke laptop.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Makanya, beragama lewat pernikahan itu lebih berat daripada selibat. Kata Rumi, “kalau engkau termasuk manusia pemberani, maka tempuhlah jalan Muhammad (yaitu menikah dan membersihkan diri lewat pasangan). Tapi kalau tidak, maka setidaknya tempuhlah jalan Isa.”&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Justru tujuan pernikahan bagi mereka (para penempuh jalan spiritual sejati) masing-masing lelaki dan wanitanya adalah ‘menggunakan’ ketidaksempurnaan pasangannya itu untuk membersihkan jiwanya sendiri. Dia mengamplas hatinya lewat pasangannya, demi meraih Cinta Sempurna (C dan S nya kapital) untuk diri dan pasangan mereka, karena masing-masing diri mereka menyadari bahwa cinta mereka untuk pasangannya bukanlah cinta yang tertinggi.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Socrates paham sepenuhnya hal ini. Ia, sebagai seorang pencari kebenaran hakiki (sufi sejati juga kali?) justru mencari wanita berperangai paling buruk di Athena untuk ia nikahi. Ia ingin mengasah kebijaksanaan dan kesabarannya lewat istrinya. Kata-kata beliau yang terkenal setelah menikah: &lt;em&gt;“By all means, get married! If you get a good spouse you’ll be happy. If you get a bad one, you’ll become a philosopher. You have nothing to lose.”&lt;/em&gt; Lucu sih. Tapi dalem.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Ini dari kitabnya Rumi, &lt;em&gt;Fihi Ma Fihi&lt;/em&gt; diskursus #20, terjemahan &lt;em&gt;monsiour&lt;/em&gt; Herr Mann Soetomo, tentang pernikahan sebagai jalan Muhammad:&lt;/p&gt;    &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan-jenismu, untuk membersihkan ketidak-sucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik mensucikan dirimu-sendiri melalui mereka daripada mencoba mensucikan mereka melalui dirimu-sendiri. Ubahlah dirimu-sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut-pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak-adil.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada hakikat dari persoalan ini lah, Muhammad S.A.W. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, lelaki hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan, agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan-jenis, mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlakukan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak-murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidak-murnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan ruhaniah. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan bahwa suatu malam Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya kembali dari suatu ekspedisi. Belian menyuruh mereka memukul genderang, seraya berkata: “Kita akan berkemah di gerbang kota, dan memasukinya esok-hari.” Mereka bertanya: “Wahai Rasul Allah, mengapa kita tidak langsung saja kembali ke rumah masing-masing?” Beliau S.A.W. menjawab: “Bisa jadi engkau akan menemui istrimu di ranjang bersama lelaki lain. Engkau akan terluka, dan kegaduhan akan timbul.” Salah seorang sahabat tidak mendengar ini, dia masuk ke kota, dan mendapati istrinya bersama dengan orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini: Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak-adilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad S.A.W. adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain. Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggungkan seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu, “Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil-panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta-karun,” bahwa engkau akan meraih harta-karun, itu benar adanya; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapankan.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;    &lt;p&gt;Jadi, justru di jalan Muhammad orang yang mau menikah seharusnya sepenuhnya menyadari bahwa sifat-sifat pasangan yang ‘buruk’ itu akan menempa kita, demi menjadi bijak, bersih, matang, dan suci, untuk meraih cinta tertinggi bagi masing-masing pasangan. Ini bahagia atau tidak bahagia? Tergantung cara memandang ‘kebahagiaan’. Bahagia kelas permen atau bahagia kelas langit.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Di sisi lain, Rasul melarang menikah tanpa cinta, sekalipun itu paksaan orangtua sendiri. Cinta adalah landasannya pernikahan. Tapi para pejalan ini tahu, bahwa hanya ada dua kemungkinan arah cinta di awal pernikahan itu: cinta itu akan mati saja, atau cinta itu akan mati dan tertransformasi menjadi cinta yang lebih tinggi, dalam tiap tahapan pernikahan. Itu artinya menanggung tempaan secara teratur, selang seling senang dan martil.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Sekarang, kalau saya ditanya, memang mau menempuh pernikahan seperti itu? Berani? Sejujurnya, rasanya nggak lah. Ke’sufi’an (dalam tanda kutip) yang saya punya paling juga masih sebatas wacana. &lt;em&gt;No way. Not way&lt;/em&gt;. Saya juga tentu mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan saya. Tapi pada saat yang sama, juga mengharapkan adanya transformasi. Agaknya kalau mau enak semuanya itu jawaban hawa nafsu saya saja.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Kalau merenungi landasan pernikahan kami lumayan membuat saya ‘berkeringat dingin’. Bukan mikirin malam pertama, tapi mikir landasan pernikahan kami. Udah benar belum ya, landasannya, niatnya, paradigmanya, harapannya? Kalo salah gimana? Apa yang terjadi nanti? Apakah langgeng, berantem, bercerai? Kaya, melarat? Nggak tau. Mutlak nggak tau. &lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Saya hanya berharap semoga Allah tidak pernah meninggalkan kami, dan mencukupi kebutuhan kami lahir dan batin, jasad dan jiwa. Semoga dari ketidaktahuan itu akan lahir sebuah Keberserahdirian yang mendatangkan rahmat. &lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Islam, &lt;em&gt;aslama,&lt;/em&gt; berserah diri. Makanya kata Rasul, menikah adalah setengah &lt;em&gt;diin,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;diinul-Islam,&lt;/em&gt; jalan keberserahdirian. Sebuah kebergantungan hati yang mutlak kepada Allah ta’ala, &lt;em&gt;no matter how good we are. That sense is so hard to accomplish.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Semoga Allah menguatkan kami dalam penempaannya. Semoga Allah berkenan hadir mengunjungi kami dalam kebahagiaan-kebahagiaannya. &lt;em&gt;Ya Rabb, please be gentle with me. This is my first. Actually, You are my first. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt; &lt;img src="http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" class="wp-smiley" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;*Lagi males nulis, tulisan diatas saya 'bajak' dari Blog nya mas Herry Mardian. Makasih ya atas izinnya. Tulisan ini jadi legal dan halal kan :D&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-740057001617255641?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/740057001617255641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=740057001617255641' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/740057001617255641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/740057001617255641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/06/pernikahan-mengasah-diri-melalui.html' title='Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-7784328538183455124</id><published>2007-04-11T17:08:00.000+07:00</published><updated>2007-04-11T17:11:32.342+07:00</updated><title type='text'>BERANI HIDUP</title><content type='html'>Jangan biarkan aku berdoa untuk berlindung dari bahaya,&lt;br /&gt;Tetapi untuk menjadi berani menghadapinya&lt;br /&gt;Jangan biarkan aku meminta kesembuhan luka,&lt;br /&gt;Namun hati untuk menaklukkannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rabidranath Tagore)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-7784328538183455124?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/7784328538183455124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=7784328538183455124' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/7784328538183455124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/7784328538183455124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/04/berani-hidup.html' title='BERANI HIDUP'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-6886496172585555978</id><published>2007-04-11T16:07:00.000+07:00</published><updated>2007-04-11T17:35:54.658+07:00</updated><title type='text'>IBUKU PERMATA HATIKU</title><content type='html'>Anda tersenyum membaca judul diatas?karena judul itu sama persis dengan judul puisi yang dibuat oleh anak SD? Tidak apa2, karena sungguh saya pun merasa kesulitan membuat judul yang tepat untuk menggambarkan sosok ibu yang saya cintai.&lt;br /&gt;Pada awalnya permata hanyalah sebongkah karbonit hitam. Agar menjadi indah,ia harus merelakan dirinya untuk ditempa dengan tekanan panas yang amat tinggi dalam jangka waktu yang sangat lama. Permata akhirnya saya anggap sebagai personifikasi yang paling tepat dari ibu saya. Ibu saya adalah sosok yang telah merelakan dirinya ditempa dengan berbagai kesulitan dan kegetiran hidup untuk kemudian membagikan keindahannya dalam bentuk cinta, ketulusan, kesabaran kepada kami, keluarga kecilnya.&lt;br /&gt;Saya sangat mencintai ibu saya, hingga teman perempuan saya sempat protes, bahwa saya lebih sering menceritakan tentang ibu saya dibanding ayah. Biasanya saya berkilah dan menjawab dengan diplomatis, 'bukankah kedudukan seorang ibu tiga kali lebih utama dibanding ayah? ;)&lt;br /&gt;Ibu saya adalah sosok sederhana. Beliau hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang menancapkan eksistensi diri tidak di gedung-gedung perkantoran melainkan di tengah kehangatan keluarga.&lt;br /&gt;Ibu adalah segalanya dalam hidup saya. Ketika teman-teman saya sering mengeluh, betapa sulitnya berkomunikasi dan mencurahkan perasaan pada ibu mereka tanpa merasa dihakimi, ibu saya adalah teman yang setia mendengarkan cerita saya berjam-jam.Ibu saya selalu ada ketika saya ingin bercerita apa saja, tentang kebahagiaan, tentang kepedihan...Dan pangkuan ibu adalah tempat yang paling mujarab untuk menumpahkan segala sesak di dada. Ketika saya merasa gagal, kecewa, dan tersakiti. Demikianlah...ibu selalu ada....&lt;br /&gt;Ibu saya belum pernah membaca buku psikologi perkembangan ataupun buku pendidikan anak. Tetapi beliau mengerti benar bagaimana harus memperlakukan anak-anaknya. Belum pernah sekalipun beliau memaki ataupun berteriak keras. Beliau mendidik kami dengan cinta dan hanya dengan cinta. Ketika saya berbuat salah ataupun tanpa sengaja membuat kesal, biasanya ibu hanya terdiam. Tetapi sorot matanya cukup untuk membuat saya merasa bersalah dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.&lt;br /&gt;Saya mencintai ibu saya. Kenyataan bahwa saya belum mampu untuk membahagiakannya, sering membuat saya merutuki diri sendiri. Maka, saya pun hanya bisa berdoa agar Allah berkenan memampukan saya untuk membahagiakan ibu saya. Entah kapan...&lt;br /&gt;Ibu saya seorang yang lembut sekaligus tegar. Ketegarannya seringkali mampu memberikan kekuatan kepada kami atas apapun yang terjadi dalam hidup. Kesabaran dan keikhlasan adalah dua hal yang sering beliau camkan. Dan puncaknya adalah ketika saya ditimpa musibah yang cukup besar. Ketegaran ibu saya lagi-lagi diuji. Ibu saya hanya manusia biasa, beliaupun menangis,tetapi hanya sebentar saja. Dengan cepat, disaputnya kesedihan berganti dengan ketegaran yang amat saya kenal. Ketegaran seorang ibu memang mumpuni, mampu memberikan energi hingga saya pun bertekad untuk berusaha kuat seperti ibu saya.&lt;br /&gt;Peristiwa itu semakin membuat saya mencintai ibu saya. Ibulah yang setia menemani saya mengatasi masa-masa sulit, ketika air mata sudah tidak mampu lagi mengikis rasa pedih.&lt;br /&gt;Ibu yang memeluk saya, ketika tubuh saya berguncang manahan duka hati. Ibu yang menghadiahi saya dengan banyak cinta ketika langit terasa kelam.&lt;br /&gt;Tak ada makhluk di dunia ini yang sempurna, tapi bagi hidup saya, ibu adalah sempurna.&lt;br /&gt;Tuhan telah banyak memberikan anugerah dalam hidup saya. Tapi, bila Tuhan meminta saya untuk menyebutkan satu saja anugerah-Nya yang paling indah, maka saya akan menjawab, ibu saya Tuhan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Untuk bunda sayang, maafkan aku ketika kata dan hanya kata yang mampu aku hadirkan sebagai tanda cinta untukmu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-6886496172585555978?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/6886496172585555978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=6886496172585555978' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/6886496172585555978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/6886496172585555978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/04/ibuku-permata-hatiku.html' title='IBUKU PERMATA HATIKU'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-8962522948629659165</id><published>2007-02-20T15:08:00.000+07:00</published><updated>2007-02-20T15:18:14.537+07:00</updated><title type='text'>Awan dan Bunga</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Bila awan tidak menangis,&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin bunga akan tersenyum?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-8962522948629659165?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/8962522948629659165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=8962522948629659165' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/8962522948629659165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/8962522948629659165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/02/awan-dan-bunga.html' title='Awan dan Bunga'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-7030656296685709511</id><published>2007-02-20T14:19:00.000+07:00</published><updated>2007-02-20T15:08:19.174+07:00</updated><title type='text'>Pada Suatu Malam</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Malam itu, bunda...&lt;br /&gt;Amat lah pekat&lt;br /&gt;Tak ada bintang gemintang...&lt;br /&gt;Langit seperti turut berduka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaran telah dibuka&lt;br /&gt;Pena telah mengering&lt;br /&gt;Takdir-Nya telah bicara, bunda&lt;br /&gt;Dan kita tahu&lt;br /&gt;Kita harus bisa bertahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kita sembap&lt;br /&gt;Hati kita sama-sama pedih...&lt;br /&gt;Malam itu pun kita berjanji untuk saling menguatkan...&lt;br /&gt;Menguatkan dengan cinta dan kesabaran...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, bunda...&lt;br /&gt;Lagi-lagi menjadi menjadi saksi ketegaranmu&lt;br /&gt;Saksi cinta mu, untukku&lt;br /&gt;Saksi cinta-Nya untuk kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Medio 31 januari 2007)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-7030656296685709511?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/7030656296685709511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=7030656296685709511' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/7030656296685709511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/7030656296685709511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/02/pada-suatu-malam.html' title='Pada Suatu Malam'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-4351873372603455681</id><published>2007-02-20T13:34:00.000+07:00</published><updated>2007-02-20T15:04:35.547+07:00</updated><title type='text'>BERDAMAI DENGAN TAKDIR</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pernahkah anda merasa tiba-tiba hidup serasa di ujung tanduk hanya dalam sekejap? Suatu hari dalam kehidupan saya, untuk pertama kalinya saya merasa Allah mengjuji saya dengan ketakutan yang sangat besar. Saya dihadapkan pada pada suatu peristiwa yang cukup mencekam yang tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak,bahwa suatu saat saya akan mengalaminya. Saking menakutkannya, hingga saya berusaha sekuat tenaga untuk mengingkari semua kenyataan itu, berharap semua hanya mimpi, dan ketika saya terbangun, semua masih baik-baik saja.&lt;br /&gt;Tetapi, kenyataan adalah kenyataan yang mau tidak mau harus dihadapi,sepahit apapun.Bila duka memiliki warna, maka amat pekatlah hidup saya saat itu. Bagaimana tidak? peristiwa itu sangat menghentak jiwa dan sempat membuat saya merasa 'mati',Mati dari rasa berharap untuk melihat mentari esok hari, mati dari rasa berharap untuk menatap masa depan. Hidup saya di ujung tanduk.Duka hati saya jangan ditanya...&lt;br /&gt;Hati saya berontak, protes kepada-Nya pun sempat terlontar. "Mengapa lagi-lagi terjadi kepada saya Tuhan? Ujian ini terasa sangat berat" Batin saya menangis.Life was so unfair to me...&lt;br /&gt;Keimanan saya benar-benar diuji. saat itu makna takdir menjadi sangat sulit untuk saya cerna.Pikiran saya buntu, sama sekali tidak bisa berfikir.Akhirnya, melalui telepon saya merintih kepada guru saya, dan dengan bodohnya saya bertanya "Tolong bu, jelaskan kepada saya tentang takdir". Guru saya terdiam sejenak.Tampaknya bukan hal yang mudah untuk menjelaskan sesuatu yang sepintas sederhana tetapi sangat esensial.&lt;br /&gt;Akhirnya, beliau menjawab dengan singkat. "Takdir adalah kehendak-Nya, tetapi tidak serta merta kita boleh menyalahkan-Nya. Dia tidak pernah salah, kita lah manusia yang sering lalai. Bisa jadi, ini adalah peringatan karena kita melupakan-Nya. Yang jelas, semua ini harus mampu menjadikan kita manusia yang lebih taat lagi".&lt;br /&gt;saya terdiam. Kesadaran sayapun timbul. Seketika saya beristigfar. Tiba-tiba saja saya merasa amat lemah di bawah lemah. Saya hanya debu di hadapan-Nya. Tertiup angin pun lenyaplah saya. Pun jika saat itu nyawa saya diambil-Nya, saya bisa apa?&lt;br /&gt;Ya, Dia Maha Berkehendak dan Maha Suci dari segala prasangka buruk. Dia tidak pernah mendzolimi hamba-hamba-Nya. Kalaupun saya ditimpa kesakitan atau musibah, pada hakikatnya adalah karena kesalahan saya sendiri.&lt;br /&gt;Manusia, eh..saya memang makhluk menyebalkan. Serimgkali harus ditegur untuk menjadi sadar. Sadar akan diri yang penuh dosa. Dosa saya memang sudah terlampau mambuih dan terlanjur berkarat sehingga Allah mempunyai 'cara' sendiri untuk membersihkan dosa-dosa saya. Musibah itu semoga bisa menjadi kifarat dosa-dosa saya...&lt;br /&gt;Akan tetapi, memang tidak ada sesuatu yang sia-sia. Akan selalu ada hikmah diantara puing-puing yang berserakan. Musibah itu memberikan banyak sekali pelajaran hidup untuk saya. Musibah ternyata bisa menjadi sarana pembelajaran paling efektif dibandingkan dengan duduk berlama-lama di forum pengajian.Karena segala teori tentang kesabaran, keikhlasan, ketawakalan dan teori -teori lainnya menuntut untuk segera diamalkan. Musibah adalah ujian praktek dari kehidupan, itu kesimpulan saya...&lt;br /&gt;Kehendak Allah memang seringkali tidak dapat dipahami, karena manusia yang amat sangat dhoif mamang tidak mungkin dapat memahami Dia yang Maha Mengetahui. Tetapi  saya percaya, sepahit apapun, segetir apapun, skenario-Nya selalu indah, selalu baik...&lt;br /&gt;Maka, melalui tulisannya, Miranda Risang Ayu pun bertutur " Dalam perspektif keimanan, Ia Maha Suci dari keburukan, dan proses hidup yang digariskan-Nya untuk siapapun adalah sempurna. Yang menjadi persoalan adalah ketiadaan keberanian seseorang untuk percaya , bahwa semua kenyataan yang menekan jiwa dan membakar hati itu, pada dasarnya adalah baik. Yang Maha Pengasih tampaknya ingin  menyatakan bahwa bergantung kepada siapapun dan apapun yang terbaik, selama semua itu masih berwujud ciptaan-Nya adalah sia-sia. Hanya Dia lah sumber keseimbangan,kebahagiaan dan kekuatan yang sebenarnya".&lt;br /&gt;Ya, ketika takdir-Nya bicara, memang  tidak ada yang bisa dilakukan selain menjaga keimanan agar tidak menjadi redup. Keimanan untuk tetap meyakini bahwa  segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya, seperti juga sehelai daun yang terjatuh hanya atas izin-Nya. Meyakini hanya Dia lah sebaik-baik penolong, sebaik-baik penentu keputusan...&lt;br /&gt;Terakhir, saat logika manusia sudah tidak lagi mendapat tempat dan hati sudah mulai letih untuk diajak berdebat, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk melakukan perdamaian.&lt;br /&gt;Berdamai dengan hati, berdamai dengan takdir...&lt;br /&gt;Agar lenyap segala duka, kegelisahan, prasangka buruk dan amarah, sehingga hanya keridhoan saja yang bersemayam dalam hati...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-4351873372603455681?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/4351873372603455681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=4351873372603455681' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/4351873372603455681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/4351873372603455681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/02/berdamai-dengan-takdir.html' title='BERDAMAI DENGAN TAKDIR'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-117022847907947881</id><published>2007-01-31T13:38:00.000+07:00</published><updated>2007-01-31T14:27:59.733+07:00</updated><title type='text'>MENGASAH NURANI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Suatu siang di dalam angkot. Cuaca saat itu sangat tidak bersahabat. Matahari sangat terik memanggang kulit.Sesekali saya mengibaskan kertas untuk sekedar mengusir rasa gerah. Tiba di perempatan lampu merah, angkutan yang saya tumpangi pun berhenti. Dan seperti biasa pengamen-pengamen akan mulai berdatangan. Dua pengamen cilik mendekati angkutan, dan dengan suara paraunya menyanyikan lagu yang, maaf tidak karuan. Mungkin karena sudah terlalu lelah, nyanyian mereka lebih tepat dikatakan sebagai gumaman. Tidak jelas. Setelah selesai, satu dua orang penumpang memberikan uang recehannya.Saya pun mencari-cari uang receh yang terselip di dompet saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat itu, entahlah, karena kondisi saya yang sedang 'kacau', pemandangan yang sudah terlalu biasa itu terasa semakin membuat saya lelah.lelah lahir batin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya jadi teringat dengan sebuah perbincangan dengan seorang teman lelaki saya. Dia adalah teman lama yang kebetulan mengenyam pendidikan di tempat berbeda dengan saya. Dia seorang aktivis di kampusnya. Pikiran-pikiran yang dia kemukakan sering membuat saya pusing kepala oleh ketidakmengertian :) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika kami sedang berada di dalam angkot, demi melihat pengamen dan anak -anak jalanan yang memenuhi jalan, dia pun berujar "sesekali mungkin kita harus sedikit tega untuk tidak memberi mereka uang. Dengan kata lain, kita coba didik mereka, mencoba memberi pelajaran agar mereka 'terkondisikan' untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Dengan begitu, mungkin bisa sedikit mengurangi jumlah pengamen dan anak jalanan yang semakin hari jumlahnya semakin banyak saja".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya pun langsung menukas pikiran praktisnya."Masalahnya, apa mereka akan sadar bahwa mereka sedang dididik, di beri pembelajaran? Mereka...hanya perlu makan saja,saya kira". Teman saya langsung terdiam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ya, istilah didik mendidik, pembelajaran atau apapun itu namanya, menurut saya hanya ada dalam pikiran orang-orang termasuk saya,yang merasa'berpendidikan' dan merasa tahu segala macam teori untuk mengentaskan kemiskinan. Sedangkan mereka, sulitnya mencari pekerjaan dan kerasnya hidup telah membuat mereka tidak mempunyai banyak pilihan, apalagi untuk berfikir mengenai peta kehidupan dalam jangka panjang. Mereka makan,hidup, hanya untuk hari ini.Selesai...Urusan besok makan apa, ya tinggal mengamen lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;LSM-LSM telah banyak didirikan, rumah singgah pun tak kurang banyaknya. Tanpa hendak mengecilkan peran organisasi-organisasi tersebut, pemandangan pengamen dan anak jalanan tetap saja masih menjadi santapan sehari-hari. Belum ada perubahan yang signifikan, saya rasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kehidupan mereka tetap saja masih terangkum dalam data-data statistik, berupa angka-angka, bukan sebagai manusia...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Segala macam teori tentang pengentasan kemiskinan dikerahkan, hasilnya tetap saja belum terasa. Negeri ini memang sudah terlanjur carut marut, permasalahan terlalu komplek, seperti lingkaran setan yang sulit untuk diurai...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bila kondisi jiwa dan keimanan saya sedang stabil, saya bisa memberikan beberapa uang logam saya dengan ringan saja, tanpa memikirkan apapun. Tapi, bila kondisi saya sedang berada di 'titik genting' sedang letih, sedang lemah iman, uang yang saya berikan harus dengan susah payah saya keluarkan setelah melalui serangkaian pergulatan batin karena rasa bersalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Situasi ini kadang membuat saya letih dan bosan, karena jumlah mereka memang banyak, sebanyak perempatan lampu merah yang harus saya lalui setiap harinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jadi bagaimana? pura-pura tidak tahu saja? Tapi nurani sayapun tidak bisa berbohong, mata-mata lapar mereka memang nyata di depan mata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam situasi seperti ini, mungkin sudah saatnya bagi saya untuk untuk mengesampingkan akal dan teori-teori apapun yang ada di kepala saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Urusan pengentasan kemiskinan, biarlah diatur oleh lembaga yang lebih berkompeten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya? Saya hanya perlu mengasah nurani, agar hati terbiasa untuk lembut dan peka terhadap penderitaan sesama.Berhenti berfikir mengapa saya harus menolong, mengapa  harus membantu. Bukankah Tuhan Maha Melihat, dan hanya keridhoan-Nya saja yang kita harapkan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan, ajaib... saya pun tidak merasa pusing kepala lagi...Bagaimana dengan anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-117022847907947881?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/117022847907947881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=117022847907947881' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/117022847907947881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/117022847907947881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/mengasah-nurani.html' title='MENGASAH NURANI'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116919539045764012</id><published>2007-01-19T14:34:00.000+07:00</published><updated>2007-01-24T13:46:44.556+07:00</updated><title type='text'>Menggenapkan Setengah Dien</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa tahun lalu, bila wacana tentang pernikahan disodorkan ke hadapan saya, maka saya akan mengatakan bahwa sebuah pernikahan adalah indah dan menyenangkan saja. Bagaimana mungkin tidak indah ketika kita bisa selalu bersama dengan orang yang kita cintai dan menghabiskan sisa usia sampai mati. Indah, persis seperti cerita pangeran dan putri di negeri dongeng. Prince and princess get married and they live happily ever after!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi, sayangnya kita tidak sedang hidup di negeri dongeng.Kita hidup di dunia nyata yang di dalamnya tidak hanya menawarkan bunga yang indah, tapi juga hujan dengan petir yang menyambar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan berbekal pengalaman hidup yang ala kadarnya, akhirnya saya menyimpulkan bahwa bila pernikahan dengan segala konsepnya harus dirangkum dalam satu kata saja, saya akan menyebutkan kata perjuangan. Ya, menikah berarti perjuangan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika kita mengikrarkan janji sehidup semati di hadapan-Nya, berarti kita telah menyiapkan diri untuk berbagi hidup dengan orang lain. Kesediaan untuk berbagi hidup dengan orang lain, sama artinya dengan keikhlasan dan kerelaan untuk menurunkan ego hingga beberapa tingkat yang bagi sebagian orang dirasakan sebagai suatu bentuk penurunan harga diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tidak ada lagi aku atau kamu, yang ada adalah kita...Dua orang yang sama-sama sedang berusaha menggenapkan cinta...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pernikahan bukan hanya sebuah keinginan, namun sebuah keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan kesiapan untuk berjuang, begitu menurut sebuah buku yang saya baca.Sedangkan guru mengaji saya mengatakan bahwa pernikahan memerlukan kesiapan fisik,mental dan spiritual...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menghadapi hal tersebut, akhirnya saya mencoba membekali diri dengan banyak membaca buku-buku tentang pernikahan. Hasilnya? semakin banyak tahu, semakin rumit pula konsep pernikahan dalam benak saya. Dan bertaburanlah kata-kata yang mengiringi kata pernikahan, diantaranya adalah, cinta, kesabaran, keikhlasan, keridhoan, empati, komunikasi dan masih banyak lagi. Menggenapkan setengah dien? alangkah terjal dan berliku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi, ketika Allah telah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk mengemban amanah besar itu, Dia pun telah menyediakan pula sandaran tempat manusia bergantung. Sandarannya, tentu saja hanya Dia...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pertanyaannya kemudian adalah,akankah saya sanggup untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya penolong, melibatkan-Nya dalam setiap persoalan kehidupan pernikahan saya kelak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karena, menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran hidup tidak bisa hanya diucapkan di mulut saja. Kesadaran itu hanya dapat dimengerti dan dipahami oleh dua orang yang sama-sama bersedia untuk merendahkan diri dan membuka hati untuk menerima kebenaran-Nya, ketimbang ego pribadi. Ego sebagai suami atau sebagai istri. Sama-sama menyadari bahwa kita hanya lah makhluk lemah yang setiap saat akan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.Karena hakikat menikah itu sendiri adalah sebagai  sarana pembuktian cinta kita kepada Tuhan dan bukan pembuktian cinta kepada pasangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekali lagi, pernikahan adalah sebuah perjuangan. Maka, apakah kemudian saya menjadi takut untuk menikah setelah mengetahui segala kewajiban dan konsekuensinya? Tentu saja tidak. Karena bagaimanapun dengan menikahlah,cinta saya terhadap agama dan Tuhan saya menjadi genap dan sempurna...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jadi, kalaupun kaki saya harus berdarah-darah dalam menapaki pernikahan, saya harus ikhlas dan ridho agar darah dan air mata saya tidak menjadi sia-sia...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demikiankah? Wallahualam...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116919539045764012?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116919539045764012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116919539045764012' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116919539045764012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116919539045764012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/menggenapkan-setengah-dien.html' title='Menggenapkan Setengah Dien'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116903408330680762</id><published>2007-01-17T17:37:00.000+07:00</published><updated>2007-01-19T15:41:39.576+07:00</updated><title type='text'>MENJADI YANG BERSYUKUR</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mari berbicara tentang rasa syukur, dan untuk itu saya mempunyai sedikit cerita untuk anda. Saya mempunyai seorang teman perempuan yang saya kenal melalui komunitas pengajian. Orangnya cantik, shalih (setidaknya begitulah menurut pandangan saya), pintar pula, dia adalah lulusan salah satu institut terkenal di kota Bandung, dan saat ini sedang menyelesaikan Strata 3-nya pada usia yang masih muda. Diapun seorang yang ramah, mempunyai suami yang sepadan dengannya, dan juga dikaruniai anak-anak yang lucu dan pintar. Oya, masih ada lagi, teman perempuan saya itu pun diberkahi dengan harta yang sangat cukup yang diperolehnya dari hasil keringatnya sendiri maupun dari pemberian orang tuanya yang memang sangat berada. Sempurna? Begitulah... She's perfect as a mother, she's perfect as a woman, she's perfect in everything!&lt;br /&gt;Kelebihan-kelebihan yang dia miliki sempat membuat saya dan teman-teman yang lain menjadi sangat kagum sekaligus iri.&lt;br /&gt;Cerita saya belumlah tuntas. Tak lama kemudian, adik perempuan dari teman saya itu ikut bergabung dengan kelompok pengajian kami. Dan lagi-lagi kami di buat terkesima dengan kehadirannya. Sama seperti kakaknya, diapun cantik, pintar, mempunyai suami yang hebat, bergelimang harta pula. Hingga saya tak habis pikir ada sebuah keluarga yang dihujani Tuhan dengan begitu banyak kenikmatan tanpa henti.&lt;br /&gt;Kemudian saya melihat kehidupan saya. Wajah? biasa...Keluarga? juga biasa-biasa saja. Uang? seringkali saya harus mengerutkan kening ketika persediaan gaji saya semakin menipis di akhir bulan.Maka, sangat bisa ditebak, tiba-tiba saja saya menjadi sangat menderita dengan segala kekurangan yang saya miliki.&lt;br /&gt;Lalu, dimana letak permasalahannya? Apakah kemudian saya menjadi berhak untuk mengatakan bahwa Tuhan saya telah berlaku tidak adil? tentu saja tidak. Karena Dia maha Berkehendak. Jika Dia berkenan, bisa saja dijadikan-Nya dunia ini biru semua atau putih semua.&lt;br /&gt;Masalahnya ternyata ada di dalam kepala saya,It depends on the way i think...the way i look!&lt;br /&gt;Saya melihat kehidupan kedua kakak beradik teman saya itu dari luar. Saya hanya melihat hal-hal yang tampak oleh mata lahiriah saya saja. Saya merasa bebas untuk mempersepsi kehidupan mereka sesuka hati saya, maka terlihatlah kehidupan yang sempurna.&lt;br /&gt;Sedangkan saya melihat kehidupan saya sendiri dari dalam. Ketika berada di dalam semuanya akan terasa sempit kan? terasa menyesakkan, lalu menjadi orang malanglah saya. Saya kesulitan untuk mempersepsi kehidupan saya dengan baik dan positif.&lt;br /&gt;Sekarang, saya coba untuk meneropong kehidupan saya dari luar. Try to think out of the box!&lt;br /&gt;Hmmm...wajah saya memang biasa, tapi diam-diam sayapun pernah membuat beberapa orang lelaki patah hati ;) Keluarga saya biasa saja, tapi saya mempunyai orang tua yang kasih sayangnya tidak pernah habis dan seorang kakak yang baik yang tidak pernah lupa membawakan saya hadiah-hadiah kecil ketika pulang bepergian.Then... i could say that i'm blessed to have them in my life!&lt;br /&gt;Uang saya memang tidak banyak, tapi atas kemurahan-Nya saya dapat belajar mandiri untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri walaupun dengan sederhana. Lalu, sayapun dikelilingi oleh teman-teman yang menakjubkan. Saya memiliki banyak teman dengan berbagai macam karakter dan warna. Dari yang alim, hingga teman yang tidak segan-segan dan tidak malu-malu untuk bertingkah laku konyol dan  tertawa keras bersama saya ketika menemui hal-hal yang lucu.Kehadiran mereka, sungguh mewarnai hidup saya. Tapi yang terpenting adalah semua itu membuat saya merasa dibutuhkan, merasa disayang dan merasa tidak sendiri.&lt;br /&gt;Suddenly, i found that i have a very wonderful life. Sayapun tidak merasa malang lagi...&lt;br /&gt;Secepat itukah? bisa saja. Dengan mengubah pikiran, langit yang berwarna kelabu bisa tiba-tiba berubah menjadi pink seperti warna kesukaan saya.Dengan kekuatan pikiran kita bisa mengubah dunia, begitu kata seorang pakar pengembang kepribadian.&lt;br /&gt;Saya diberi kebebasan oleh-Nya untuk memilih menjadi orang yang menderita atau orang yang bahagia. Terserah saya, suka-suka saya.Bukankah Tuhan selalu datang sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Maka saya pun memilih untuk menjadi orang yang berbahagia kapanpun saya mau, tidak tergantung pada apapun, atau pada siapapun...&lt;br /&gt;Kembali ke cerita kakak beradik teman saya itu, ternyata kehidupan mereka tidak sesempurna yang saya bayangkan. Belakangan, saya baru mengetahui bahwa ternyata sang kakak mengidap penyakit yang cukup parah yang mengharuskannya bolak-balik pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatan.&lt;br /&gt;Dan sang adik ternyata pernah mengalami masa-masa pahit dan pedih ketika harus merelakan kehilangan anak pertamanya karena keguguran. Ketidakhadiran anak sempat pula menjadi duri dalam rumah tangga kecilnya. Dengan kata lain, mereka pun pernah mengalami kekecewaan dan kepedihan.&lt;br /&gt;Ya, sebagai manusia ternyata lagi-lagi saya harus mengakui kelemahan dan keterbatasan akal saya yang seringkali merasa sok tahu tentang kehendak-kehendak-Nya. Saya pun akhirnya tersadar, seorang manusia justru menjadi 'sempurna' dengan kekurangan-kekurangan yang ia miliki. Menjadi sangat manusiawi bila manusia sesekali merasakan kesedihan, kehilangan atau apapun itu. Yang jelas, Tuhan tidak hendak mendzolimi manusia ketika menisbatkan segala cobaan-cobaan hidup tersebut. Melainkan untuk menguji dan mempermudah manusia agar dapat mengucap Alhamdulillah dengan penuh makna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tuhan menyatakan kasih sayangnya tidak selalu dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Kepedihan dan kesakitan pun adalah bukti kasih sayang-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selalu menjadi yang bersyukur atas apapun yang terjadi, mungkin itu yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya...&lt;br /&gt;Sayangnya....seringkali prasangka buruk dalam kepala bebal kita menjadi penghalang untuk dapat memahami pesan-Nya...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116903408330680762?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116903408330680762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116903408330680762' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116903408330680762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116903408330680762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/menjadi-yang-bersyukur.html' title='MENJADI YANG BERSYUKUR'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116902812605289424</id><published>2007-01-17T16:58:00.000+07:00</published><updated>2007-01-17T17:02:06.053+07:00</updated><title type='text'>Kembali kepada Allah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.&lt;br /&gt;Begitulah caranya!&lt;br /&gt;Jika engkau hanya mampu merangkak,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;maka merangkaklah kepada-Nya!&lt;/span&gt;&lt;a id="more-115"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;karena Tuhan, dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu!&lt;br /&gt;Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.&lt;br /&gt;Begitulah caranya!&lt;br /&gt;Wahai pejalan!Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ayolah datang, dan datanglah lagi!&lt;br /&gt;Karena Tuhan telah berfirman:“Ketika engkau melambung ke angkasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ataupun terpuruk ke dalam jurang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ingatlah kepada-Ku,karena Aku-lah jalan itu.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Jalaluddin Rumi)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116902812605289424?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116902812605289424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116902812605289424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116902812605289424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116902812605289424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/kembali-kepada-allah.html' title='Kembali kepada Allah'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116902757381338786</id><published>2007-01-17T16:48:00.000+07:00</published><updated>2007-01-17T16:52:53.816+07:00</updated><title type='text'>Bait untuk Tuhanku</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Legamnya dosaku, Tuhan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sungguh, telah menghanguskan tubuhku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seluruh hidupku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Membuat aku tidak mampu untuk berdiri tegak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Telah sampai aku pada letih...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Telah merapat aku pada penghujung asa...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Atas nama kelemahanku sebagai manusia,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sebagai perempuan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tolong kuatkan aku Tuhan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kuatkan aku dengan ampunan-Mu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sungguh...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagiku itu cukup....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116902757381338786?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116902757381338786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116902757381338786' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116902757381338786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116902757381338786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/bait-untuk-tuhanku.html' title='Bait untuk Tuhanku'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116902599909356021</id><published>2007-01-17T15:32:00.000+07:00</published><updated>2007-01-17T16:39:08.710+07:00</updated><title type='text'>BERPROSES</title><content type='html'>Proses.Saya sangat menyukai kata itu, karena didalamnya menyiratkan adanya usaha tanpa lelah yang dilakukan secara terus menerus untuk menjadi lebih baik.Sekaligus tidak menuntut manusia untuk menjadi sempurna, karena dengan segala kekurangan dan kelemahannya, manusia memang tidak mungkin menjadi sempurna.&lt;br /&gt;Berbicara mengenai proses, secara tidak langsung kita akan berbicara pula mengenai perjalanan hidup. Untuk itu, saya ingin sedikit menceritakan perjalanan hidup saya. Terlahir sebagai anak bungsu dari keluarga kecil, sempat membuat saya merasa hidup sangat nyaman. Saya hampir tidak pernah mengalami konflik yang berarti dalam hidup saya. Bagaimana mungkin saya menemui konflik, ketika kedua orang tua saya siap melindungi saya kapan saja, dan kakak laki-laki saya satu-satunya pun siap mencurahkan kasih sayangnya hanya untuk saya saja. Maka, saya pun berada dalam zona aman dan nyaman, begitu menurut istilah salah seorang teman perempuan saya.&lt;br /&gt;Tetapi kemudian, perkenalan dengan lingkungan dan pengalaman-pengalaman hidup yang baru menyadarkan saya, bahwa kehidupan diluar sana kadang tidak pernah kompromi dan tidak segan-segan memberikan pelajaran berupa benturan-benturan ataupun kesakitan yang terkadang sangat memeras air mata. Saya harus bisa menerima dan harus siap untuk belajar. Belajar untuk berproses. Walaupun pada awalnya terasa berat dan menyakitkan, lambat laun saya mulai bisa menikmati seluruh proses dalam hidup saya, bersama dengan teman-teman baik yang selalu menemani. Mulai menikmati dan menyadari bahwa kadang-kadang diantara manisnya hidup, rasa pahit hingga getir diperlukan juga. Sesekali berurai air mata pun tidak apa-apa jadinya.&lt;br /&gt;Dengan tertatih, sayapun akhirnya dapat berkata “bila kita selalu bahagia dan selalu mendapatkan apapun yang kita inginkan, apa yang bisa kita pelajari dari hidup?”&lt;br /&gt;Seiring dengan bergulirnya waktu, saya fikir saya sudah dapat mengatasi persoalan-persoalan hidup saya dengan baik. Tapi ternyata, semua itu belum cukup. Allah masih ingin menguji saya atau menghukum saya, entahlah…Yang jelas, suatu ketika saya dihadapkan pada suatu kondisi yang benar-benar meluluhlantakkan hidup saya. Saya sempat limbung, karena pada saat bersamaan, saya pun ‘dipaksa’ untuk mengatasi semua persoalan dan kekalutan itu sendiri saja. Benar-benar sendiri, karena teman-teman baik tempat saya bergantung dan berbagi cerita pun telah dikondisikan oleh-Nya untuk ‘berpisah’ dengan saya. Allah memang sedang tidak tanggung-tanggung dalam memproses saya. Dia menginginkan saya untuk berhenti bergantung pada makhluk.&lt;br /&gt;Akhirnya, mau tidak mau saya pun harus menjalani hari-hari yang terasa makin berat. Yang tidak hanya memeras air mata tetapi juga darah, saking menyakitkannya peristiwa itu untuk hidup saya. Tapi, Allah yang Maha Sayang memang tidak hendak membiarkan saya terus menerus menderita. Diantara banyaknya dosa saya, Dia masih berkenan untuk memberikan saya kekuatan. Dalam kesendirian, untuk pertama kalinya saya menemukan kemandirian saya. Menikmati setiap detik perjalanan hidup sendiri saja. Menangis tidak di hadapan siapapun, melainkan di hadapan kelemahan dan kebodohan saya sendiri sebagai seorang manusia.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, saya jadi berfikir bahwa manusia memang perlu ditempa dengan berbagai kesakitan, kesedihan, ataupun kegalauan agar manusia bisa tersadar dari kesalahan dan tergerak untuk menjadi manusia yang lebih baik. Klise? Mungkin…Tapi, bukankah permata hanya bisa dihasilkan melalui proses tekanan dan tempaan panas yang sangat tinggi? Dan mutiara harus diperoleh dengan susah payah dari dasar lautan?&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong tentang permata, saya jadi teringat paparan yang disampaikan dengan sangat indah oleh Miranda Risang Ayu, penulis idola saya. Beliau menyatakan bahwa “seseorang yang telah pernah disapa oleh kebenaran-Nya, sesungguhnya tengah diproses oleh-Nya untuk menjadi permata-permata Mahakarya-Nya”. Indah bukan?&lt;br /&gt;Maka, anda sedang bersedih atau sedang mengalami kegalauan yang akut? Anggap saja semua itu adalah sapaan cinta-Nya untuk kita.Nikmati setiap episode kehidupan dengan senyum. Sesakit apapun, karena semua itu pun akan berlalu.Berproseslah…Berproses untuk menjadi permata…menjadi mutiara. Dan bukan untuk menjadi pecundang, semoga…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116902599909356021?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116902599909356021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116902599909356021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116902599909356021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116902599909356021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/berproses.html' title='BERPROSES'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116857345397860759</id><published>2007-01-12T10:39:00.000+07:00</published><updated>2007-01-12T10:44:13.976+07:00</updated><title type='text'>Bisikan Sang Waktu</title><content type='html'>Waktu adalah sahabat sejati&lt;br /&gt;Tak pernah lelah membersamai hidup&lt;br /&gt;Menyingkap semua dusta,&lt;br /&gt;semua yang tersembunyi...&lt;br /&gt;Meluluhlantakkan siapa saja yang tak siap&lt;br /&gt;saat ia menyatakan kebenarannya...&lt;br /&gt;Tak pernah kompromi,&lt;br /&gt;bahkan untuk sekedar menghela nafas...&lt;br /&gt;Waktu adalah sahabat sejati&lt;br /&gt;Lewat angin ia pun berbisik,&lt;br /&gt;Akan selalu ada akhir dari setiap cerita,&lt;br /&gt;Akan selalu ada jawaban atas setiap pertanyaan,&lt;br /&gt;Cepat...&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;Lambat...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116857345397860759?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116857345397860759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116857345397860759' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116857345397860759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116857345397860759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/bisikan-sang-waktu.html' title='Bisikan Sang Waktu'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116857265305379825</id><published>2007-01-12T10:23:00.000+07:00</published><updated>2007-01-12T10:38:06.643+07:00</updated><title type='text'>DOA SUNYI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan kumasuki malam, ya Tuhan&lt;br /&gt;Ketika siang hari aku harus mulai berjalan&lt;br /&gt;berjubah celaan orang-orang&lt;br /&gt;dan siang hari aku harus mulai terlelap&lt;br /&gt;berselimut sisa-sisa air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan demi Nama-Mu&lt;br /&gt;harus aku berkata,&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kumasuki malam, ya Tuhan&lt;br /&gt;ketika di antara celoteh orang-orang&lt;br /&gt;tidak lagi kutemukan hatiku&lt;br /&gt;di antara keriaan orang-orang&lt;br /&gt;tidak lagi kutemukan tawaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan Nama-Mu&lt;br /&gt;aku ingin berkata-kata&lt;br /&gt;Hanya dengan Nama-Mu&lt;br /&gt;aku ingin berbunga&lt;br /&gt;Tetapi,&lt;br /&gt;aku tidak bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ya Tuhan&lt;br /&gt;Sanggupkan aku&lt;br /&gt;Diam dan berbicara&lt;br /&gt;hanya di hadapan-Mu&lt;br /&gt;Tertawa dan menangis&lt;br /&gt;hanya karena-Mu&lt;br /&gt;Hidup dan mati&lt;br /&gt;hanya pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggupkan aku, Tuhan, tolong sanggupkan&lt;br /&gt;karena sungguh aku ingin menemukan&lt;br /&gt;bahwa aku&lt;br /&gt;dekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(By:Miranda Risang Ayu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*Sepenuh takzim untuk miranda risang ayu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang tulisannya mampu menguatkan di saat rapuh,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menghangatkan di kala beku,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menyadarkan bahwa muara dari segala kebahagiaan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kesedihan,dan kegalauan hidup adalah cinta-Nya saja...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116857265305379825?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116857265305379825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116857265305379825' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116857265305379825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116857265305379825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/doa-sunyi.html' title='DOA SUNYI'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116773142203030348</id><published>2007-01-02T15:54:00.000+07:00</published><updated>2007-01-02T16:50:22.200+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Ibu</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    Suatu ketika, saat sedang menikmati santap siang pada jam istirahat kantor,tanpa sengaja saya mendengarkan percakapan dua orang ibu muda yang kebetulan duduk tepat di sebelah saya.Hmm..pembicaraan khas ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya sekolah. Ingin tahu apa yang sedang mereka perbincangkan? obat pemutih wajah! Dari percakapan itu, saya jadi tahu nama salon ini, dokter anu, yang mampu memutihkan wajah dalam sekejap.Dan harga yang disebutkan cukup fantastis,hingga jutaan rupiah. Kedua ibu muda itu tampak sangat bersemangat dalam berbagi informasi, hingga dalam benak saya sempat terlontar pertanyaan nakal, akan sesemangat itukah mereka saat membicarakan masalah pendidikan anak? :)  Ups..! maaf, saya tidak sedang berapriori bahwa kedua ibu muda itu lebih mementingkan penampilan dibanding perkembangan anak-anak mereka. Baik,kita tinggalkan dulu cerita itu sejenak.&lt;br /&gt;    Menjadi seorang ibu, sangatlah tidak mudah,karena di pundaknya telah diamanahkan seorang anak yang harus dididik sepenuh hati, tidak sekedar diberi makan ataupun dipenuhi kebutuhan2 yang bersifat jasmani saja.Anak membutuhkan totalitas waktu yang dimiliki seorang ibu.Maka,alangkah mirisnya bila seorang ibu memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam di salon, yang hasilnya entah akan dinikmati oleh siapa. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk berbagi cerita dengan anak,menjalin persahabatan dengan anak atas dasar kasih sayang. Saya tidak menafikkan bahwa fitrah perempuan adalah selalu ingin tampil cantik,menawan. Tapi, segala sesuatu harus berjalan seimbang. Seorang ibu harusnya tidak hanya pandai memadu padankan warna baju dengan warna lipstik, tapi juga harus cerdas dalam membaca pesan-pesan kehidupan yang diantaranya hadir melalui anak. Ibu adalah pusat peradaban, tidak berlebihan kan bila saya memakai sebutan itu?&lt;br /&gt;    Kelak, bila saya dianugerahi seorang anak, saya ingin anak saya tidak mengingat saya sebagai ibu yang suka menghabiskan waktu berjam-jam di salon atau di mall.Melainkan sebagai ibu yang hangat, yang selalu ada untuk berbagi cerita ,sesekali membuatkan makanan kesukaannya ataupun berekreasi bersama ke toko buku. Alangkah romantisnya... :) Saya pun ingin , ketika uang yang saya punya hanya tinggal beberapa lembar saja yang mengharuskan saya untuk memilih membeli obat jerawat atau menghadiahkan anak saya sebuah buku, saya berharap untuk dimudahkan oleh-Nya untuk tanpa berfikir panjang mengambil pilihan yang kedua. Urusan jerawat di wajah? Dibiarkan saja untuk sementara waktu...&lt;br /&gt;    Kembali ke cerita dua orang ibu muda tadi, bila pertanyaan nakal dalam benak saya diwujudkan dalam suatu bentuk tindakan, dengan sedikit keberanian mungkin saya akan menyela pembicaraan mereka,dan berkata, "sebagai seorang ibu, ada banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar pemutih wajah"  terlalu ekstrim? jangan khawatir, semua itu kan hanya ada dalam benak saya saja :D&lt;br /&gt;    Saya mohon maaf, bila tulisan ini terkesan sangat subjektif, karena saya pun belum ditakdirkan untuk menjadi seorang ibu. Tapi, sedikit berandai-andai dan mempunyai pandangan berbeda tidak apa-apa kan?&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116773142203030348?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116773142203030348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116773142203030348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116773142203030348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116773142203030348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/menjadi-ibu.html' title='Menjadi Ibu'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116772763817618575</id><published>2007-01-02T15:34:00.001+07:00</published><updated>2007-01-02T15:47:18.186+07:00</updated><title type='text'>SENYAP</title><content type='html'>Aku lelah,&lt;br /&gt;Ketika kebersamaanku hanyalah goresan pena&lt;br /&gt;yang menari-nari, hampa...&lt;br /&gt;Ketika kesendirianku adalah&lt;br /&gt;Untaian kata yang kusemat dalam sepi&lt;br /&gt;Kujalin dengan air mata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh aku letih,&lt;br /&gt;Ketika riuh suara itu&lt;br /&gt;ternyata hanya ada dalam kepalaku saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monolog ini akankah menjadi dialog?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116772763817618575?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116772763817618575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116772763817618575' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116772763817618575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116772763817618575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2007/01/senyap_02.html' title='SENYAP'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116702399346993994</id><published>2006-12-25T12:05:00.000+07:00</published><updated>2006-12-25T12:19:53.476+07:00</updated><title type='text'>BUNDA</title><content type='html'>BUNDA...&lt;br /&gt;Sungguh aku kehilangan kata...&lt;br /&gt;Mengingatmu adalah...&lt;br /&gt;Mengetahui bahwa cintamu itu bening&lt;br /&gt;Cintamu selalu ada untuk anak-anakmu&lt;br /&gt;Aku tak akan lupa,&lt;br /&gt;Ketika semalaman aku tidak bisa tidur&lt;br /&gt;dengan air mata meleleh di pipi karena tersakiti&lt;br /&gt;Kau hanya terdiam...&lt;br /&gt;Tapi aku dapat melihat&lt;br /&gt;bahwa kau pun merasakan kesakitan yang sama&lt;br /&gt;Bagiku...itu cukup...&lt;br /&gt;Cintamu Bunda,&lt;br /&gt;Sungguh menghangatkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNDA...&lt;br /&gt;Bersamamu adalah menjalani hari dengan ketegaran&lt;br /&gt;Kau berkata, bahwa kesabaran dan keikhlasan adalah segalanya dalam hidup&lt;br /&gt;Maka, bersamamu  aku akan selalu berusaha untuk kuat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNDA...&lt;br /&gt;Sungguh aku kehilangan kata...&lt;br /&gt;Atas nama bunga yang indah...&lt;br /&gt;Cinta yang putih...&lt;br /&gt;Aku hanya dapat berkata...&lt;br /&gt;Aku...&lt;br /&gt;Mencintaimu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116702399346993994?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116702399346993994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116702399346993994' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116702399346993994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116702399346993994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/bunda.html' title='BUNDA'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116702305295424592</id><published>2006-12-25T12:01:00.000+07:00</published><updated>2006-12-25T12:04:12.956+07:00</updated><title type='text'>Sendiri</title><content type='html'>Dukanya duka, ternyata, adalah ketika tak seorang pun mengerti karena memang tak ada kepercayaan yang cukup dapat diberikan kepada orang lain untuk mencoba mengerti&lt;br /&gt;(Miranda Risang Ayu)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116702305295424592?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116702305295424592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116702305295424592' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116702305295424592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116702305295424592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/sendiri.html' title='Sendiri'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116702260811144387</id><published>2006-12-25T11:51:00.000+07:00</published><updated>2006-12-25T11:56:48.116+07:00</updated><title type='text'>KERIDHOAN</title><content type='html'>"Keridhoan adalah bagian dari puncak sikap seorang hamba&lt;br /&gt;yang mesti ada saat mengalami peristiwa apapun dalam hidup.&lt;br /&gt;Kita memang hamba-hamba-Nya&lt;br /&gt;yang sejakubun-ubun hingga ujung kaki&lt;br /&gt;berada di bawah kuasa-Nya.&lt;br /&gt;Keridhoan adalah ketenangan hati&lt;br /&gt;pada ketetapan dan pilihan Allah&lt;br /&gt;yang diberikan untuk diri kita.&lt;br /&gt;Kesadaran bahwa apa yang Allah tetapkan untuk kita,&lt;br /&gt;bagaimanapun pasti merupakan yang paling utama,&lt;br /&gt;lalu kita ridho kepada-Nya..."&lt;br /&gt;(Ibnu Atha)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116702260811144387?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116702260811144387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116702260811144387' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116702260811144387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116702260811144387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/keridhoan.html' title='KERIDHOAN'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116702105804227575</id><published>2006-12-25T11:01:00.000+07:00</published><updated>2006-12-25T11:30:58.050+07:00</updated><title type='text'>MENCINTAI</title><content type='html'>Anda pernah patah hati? Saya pernah.Patah hati dalam arti sebenar-benarnya.Ditinggal seseorang yang sebelumnya dekat dengan hidup saya.Terlepas dari kebodohan saya sebagai seorang manusia karena telah berani-beraninya menjalin suatu hubungan tidak dalam kerangka seharusnya, izinkan saya mengungkapkan sedikit perasaan saya.&lt;br /&gt;Saya sempat bingung dengan makna mencintai. Seseorang berkata, jangan pernah mencintai secara berlebihan bila tidak ingin disakiti. Masuk akal...saya sadar itu.Tapi, sisi lain hati saya pun berkata bahwa mencintai berarti totalitas. Bahkan bila didalamnya terdapat kepedihan, kesakitan, diterima saja.Toh itu resiko. dengan kata lain, jangan berani-berani mencintai bila tidak mau menanggung resiko tersakiti. Ternyata makna mencintai bisa sangat sederhana tapi juga bisa sangat rumit.&lt;br /&gt;Setelah pengalaman buruk yang saya alami, saya mencoba berfikir ulang. Jadi, cinta itu harus seperti apa? bukankanh ia datang secara alami, mengalir tulus, tanpa sadar bahwa kita selalu ingin bersama, menyayangi, memberi dan melindungi...&lt;br /&gt;Tapi,kemudian saya pun tersadar bahwa bila makna cinta hanya berhenti pada tataran sikap seperti itu, maka cinta hanya bersifat naluri saja,yang semua orang bisa merasakan bahkan hewan pun bisa. Sedangkan cinta seharusnya menguatkan dan memberi energi yang membangun, bukan menjadi suatu justifikasi untuk melakukan tindakan-tindakan bodoh. Naluri saja tidak cukup, akal pun harus ikut berperan.&lt;br /&gt;Jadi bagaimana? Mencintai karena Allah? Mungkin itu jawabannya. Harusnya dari dulu saya sadar. Ketika relasi antar manusia atau lebih tepatnya hubungan antar laki-laki dan perempuan terjalin tidak dengan melibatkan Sang Maha Pemilik Cinta, wajar saja jika hanya kepedihan yang didapat. Bukankah menyandarkan harapan dan berharap terlalu banyak dari seorang manusia sama saja dengan menyiapkan diri untuk suatu saat kecewa?&lt;br /&gt;Ternyata cinta pun memiliki aturan...Akhirnya, sayapun hanya dapat berdoa, Tuhan,tolong sederhanakan cintaku agar tak ada lagi ruang yang terasa sepi ketika cinta itu harus pergi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116702105804227575?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116702105804227575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116702105804227575' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116702105804227575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116702105804227575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/mencintai.html' title='MENCINTAI'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116592140936949177</id><published>2006-12-12T18:00:00.000+07:00</published><updated>2006-12-12T18:03:29.390+07:00</updated><title type='text'>Syukur</title><content type='html'>Pagi hari...&lt;br /&gt;Kubuka jendela&lt;br /&gt;Tak ada kicauan burung memang...&lt;br /&gt;tapi hangat mentari meneguhkan&lt;br /&gt;Bahwa aku masih ada...&lt;br /&gt;Maka nikmat manakah&lt;br /&gt;yang dapat aku dustakan...?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116592140936949177?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116592140936949177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116592140936949177' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116592140936949177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116592140936949177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/syukur.html' title='Syukur'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116591896902433007</id><published>2006-12-12T17:14:00.000+07:00</published><updated>2006-12-12T17:33:13.113+07:00</updated><title type='text'>UNTUKMU</title><content type='html'>Siapapun Engkau...&lt;br /&gt;Aku ingin kau tahu..&lt;br /&gt;Bahwa kebersamaan adalah indah&lt;br /&gt;Dan perjalanan paling romantis adalah&lt;br /&gt;ketika kita mampu membersamai hari&lt;br /&gt;dengan mengingat-Nya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanapun engkau berada...&lt;br /&gt;Aku ingin kau tahu&lt;br /&gt;Bahwa perempuan ini pun memiliki kekurangan&lt;br /&gt;Tetapi bersamamu&lt;br /&gt;aku akan berusaha untuk selalu merasa cukup&lt;br /&gt;Menjadi yang bersyukur...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga takdir mempertemukan kita,&lt;br /&gt;Ketika beban terasa berat&lt;br /&gt;dan hidup tidak seramah biasanya...&lt;br /&gt;Aku ingin kau tahu&lt;br /&gt;Bahwa aku ada...&lt;br /&gt;Dengan secangkir teh hangat&lt;br /&gt;yang aku harap dapat menghangatkan jiwamu&lt;br /&gt;Masih kurang?&lt;br /&gt;Mungkin akan kubuatkan pula&lt;br /&gt;Sebait puisi cinta...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116591896902433007?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116591896902433007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116591896902433007' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116591896902433007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116591896902433007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/untukmu.html' title='UNTUKMU'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116563077754505628</id><published>2006-12-09T09:17:00.000+07:00</published><updated>2006-12-09T09:19:37.550+07:00</updated><title type='text'>Semburat Masa Lalu</title><content type='html'>Dulu...&lt;br /&gt;Tempatmu disini...&lt;br /&gt;Menggelitik setiap sudut ruang hatiku&lt;br /&gt;Mengungkung hidupku dengan boneka dan apel merahmu&lt;br /&gt;Sekarang...&lt;br /&gt;Maaf, ternyata dirimu tidak cukup berarti...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116563077754505628?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116563077754505628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116563077754505628' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116563077754505628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116563077754505628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/semburat-masa-lalu.html' title='Semburat Masa Lalu'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116546582423824308</id><published>2006-12-07T11:16:00.000+07:00</published><updated>2006-12-07T11:30:24.246+07:00</updated><title type='text'>Lelaki Itu</title><content type='html'>Aku ingat...&lt;br /&gt;Saat itu kau datang saat hujan dalam sudut hatiku&lt;br /&gt;semakin menderas&lt;br /&gt;Kaupun menawarkan hangat,menawarkan damai...&lt;br /&gt;Waktu bergulir...&lt;br /&gt;Aku tidak pernah tahu siapakah aku bagimu&lt;br /&gt;Saat itu dan kini&lt;br /&gt;Tapi...&lt;br /&gt;Harusnya kau tahu&lt;br /&gt;Menyayangi tidak sama dengan menyakiti&lt;br /&gt;Melindungi tidak sama dengan menikam dari belakang&lt;br /&gt;Dan harusnya kau tahu&lt;br /&gt;Sepotong hati ini hampir tidak mampu menampung&lt;br /&gt;semua kesakitan ini...&lt;br /&gt;Tapi...&lt;br /&gt;Kau adalah manusia,seperti juga aku&lt;br /&gt;dan cinta tidak hanya menyediakan mawar&lt;br /&gt;tapi juga duri...&lt;br /&gt;Maafku untukmu...&lt;br /&gt;Kusampaikan lewat angin saja...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116546582423824308?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116546582423824308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116546582423824308' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116546582423824308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116546582423824308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/lelaki-itu.html' title='Lelaki Itu'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116514188025682069</id><published>2006-12-03T17:27:00.000+07:00</published><updated>2006-12-03T17:31:20.256+07:00</updated><title type='text'>IRONI</title><content type='html'>Cinta dan kepedihan...&lt;br /&gt;Mengapa pula mereka selalu bersanding...??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116514188025682069?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116514188025682069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116514188025682069' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116514188025682069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116514188025682069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/12/ironi.html' title='IRONI'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116477871064809062</id><published>2006-11-29T12:31:00.000+07:00</published><updated>2006-11-29T12:38:30.656+07:00</updated><title type='text'>Pasangan Jiwa</title><content type='html'>Tuhan, hingga kelak Kau takdirkan pasangan jiwa untukku,&lt;br /&gt;Aku ingin...&lt;br /&gt;Pasangan jiwaku adalah sahabat sejatiku,&lt;br /&gt;untuk bersama-sama mencinta-Mu&lt;br /&gt;Pasangan jiwaku adalah tempat aku berbagi cerita,&lt;br /&gt;tentang indah, tentang pedih&lt;br /&gt;Pasangan jiwaku adalah pesan cinta-Mu untukku&lt;br /&gt;Tuhanku sayang, hadirkanlah ia pada saat terbaik&lt;br /&gt;Tidak untuk aku cintai dengan berlebihan,&lt;br /&gt;tapi untuk menggenapkan cintaku pada-Mu..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116477871064809062?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116477871064809062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116477871064809062' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116477871064809062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116477871064809062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/11/pasangan-jiwa.html' title='Pasangan Jiwa'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116364489151201656</id><published>2006-11-16T09:36:00.000+07:00</published><updated>2006-12-01T09:08:41.230+07:00</updated><title type='text'>Inginku</title><content type='html'>Aku ingin menjadi bunga&lt;br /&gt;Indah, menawan hati&lt;br /&gt;Aku ingin menjadi mentari&lt;br /&gt;terang dan menghangatkan&lt;br /&gt;aku ingin menjadi embun&lt;br /&gt;dingin,menyejukkan&lt;br /&gt;Tapi Tuhan,sungguh semua keinginanku itu&lt;br /&gt;membuat kepalaku serasa mau pecah&lt;br /&gt;Akhirnya, kusederhanakan saja keinginanku&lt;br /&gt;Aku hanya ingin menjadi baik saja Tuhan&lt;br /&gt;Sebaik-baiknya diriku sebagai hamba-Mu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116364489151201656?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116364489151201656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116364489151201656' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116364489151201656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116364489151201656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/11/inginku.html' title='Inginku'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116312622511674058</id><published>2006-11-10T09:31:00.000+07:00</published><updated>2006-11-10T09:37:05.123+07:00</updated><title type='text'>Aku yang Perempuan</title><content type='html'>Aku memang perempuan,&lt;br /&gt;Benar-benar hanya seorang perempuan&lt;br /&gt;Aku adalah air mata,&lt;br /&gt;tapi aku juga adalah ketegaran&lt;br /&gt;Aku adalah tulang rusuk yang bengkok dan rapuh,&lt;br /&gt;tapi dengan Nama-Nya, akupun mampu berdiri tegak&lt;br /&gt;Aku bukanlah laut dengan ombak yang mendebur,&lt;br /&gt;aku adalah telaga...&lt;br /&gt;Sekali lagi, aku memang perempuan&lt;br /&gt;tapi bukan kelemahan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116312622511674058?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116312622511674058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116312622511674058' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116312622511674058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116312622511674058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/11/aku-yang-perempuan.html' title='Aku yang Perempuan'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116286274389785083</id><published>2006-11-07T08:19:00.001+07:00</published><updated>2006-11-07T08:25:43.896+07:00</updated><title type='text'>Sepi</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Tuhan, ketika mulut sudah tak mampu lagi berkata-kata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Ketika air mata hanya semakin terasa memedihkan hati..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Harus dengan cara apa lagi kuhalau sepi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Tuhan, seperti juga telah pernah Kau kenalkan aku pada kebahagiaan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Tolong akrabkan aku dengan kesakitan ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Agar lenyap seluruh pedih, hilang seluruh duka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Terbang bersama angin...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116286274389785083?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116286274389785083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116286274389785083' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116286274389785083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116286274389785083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/11/sepi.html' title='Sepi'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116286142921805087</id><published>2006-11-07T07:56:00.000+07:00</published><updated>2006-11-07T08:12:46.386+07:00</updated><title type='text'>dingin</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;Kucari cinta diantara hijau dedaunan, diantara indah kupu-kupu&lt;br /&gt;Kucari cinta di awan biru, di hangat mentari&lt;br /&gt;Akhirnya, kutemukan ia..diantara deras hujan&lt;br /&gt;Lagi-lagi diantara hujan,&lt;br /&gt;Hujan yang menderas...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116286142921805087?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116286142921805087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116286142921805087' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116286142921805087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116286142921805087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/11/dingin.html' title='dingin'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37207337.post-116278645237199328</id><published>2006-11-06T11:09:00.000+07:00</published><updated>2006-11-06T11:14:12.376+07:00</updated><title type='text'>BISIKAN HATI</title><content type='html'>Brrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr....&lt;br /&gt;aku kedinginan....dalam sepi....diantara pepohonan..diantara bisikan angin&lt;br /&gt;jeri hati ini kenapa juga tak pernah mau pergi....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37207337-116278645237199328?l=evahandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evahandayani.blogspot.com/feeds/116278645237199328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37207337&amp;postID=116278645237199328' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116278645237199328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37207337/posts/default/116278645237199328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evahandayani.blogspot.com/2006/11/bisikan-hati.html' title='BISIKAN HATI'/><author><name>Eva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04883712113784272108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
